Guru Inovatif Siswa Kreatif

Guru Inovatif Siswa Kreatif

Total Tayangan Halaman

11 April 2016

Atur Dan Awasi (ADA) Penanganan Lingkungan di PPLH Seloliman

BAB I
PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang
Seandaiya manusia bisa hidup berdampingan dengan alam tanpa merusaknya, tanpa mengganggu keseimbangan, tanpa merusak hutan, pastinya hidup manusia akan menjadi lebih berkualitas. Melupakan polusi khas kota besar akan ditemui di PPLH (Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup) Seloliman, hanyalah hutan hijau, sawah membentang, sungai jernih, benar-benar tempat tinggal yang sangat ideal. Pusat pendidikan lingkungan hidup memperkenalkan akan kegunaan dan pentingnya menjaga kelestarian hutan demi kelangsungan kehidupan makhluk hidup. Memanfaatkan potensi alam tanpa merusak keseimbangan, mengambil sesuatu dari alam, memanfaatkannya untuk kebaikan manusia tanpa merusak lingkungan.
Pada tanggal 24 Maret 2016 penulis mengunjungi PPLH seloliman, membawa anak/keluarga sambil mengikuti kegiatan outbond KB/TK IT Wildani 2 Surabaya. Pada kesempatan itu penulis berpeluang mengenal peduli lingkungan alam secara langsung dengan lebih dekat, tentang bagaimana menggunakan potensi alam tanpa merusak keseimbangan serta kelestarian lingkungan.
PPLH Seloliman, terletak di Desa Seloliman, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto. Didirikan pada tahun 1990 dengan tujuan untuk mewujudkan masyarakat yang sadar dan peduli akan lingkungan sebagai tempat tinggal yang perlu dijaga kelestariannya. PPLH sendiri merupakan lembaga swadaya masyarakat yang bergerak dibidang lingkungan hidup, pusat kegiatannya dibangun di area seluas 3.5 hektar.
BAB II
PEMBAHASAN

A.  Deskripsi PPLH Seloliman       
PPLH seloliman menyajikan pemandangan alam yang indah memberikan kesempatan kepada penulis untuk mempelajari konsep pemanfaatan potensi alam yang ramah lingkungan. Di PPLH ini penulis bisa menikmati suasana hutan alami dan sungai yang mengalir jernih. Area PPLH yang bernuansa hutan alam membuat pengunjung merasa bagaikan berada di sebuah kota yang hilang terdapat komplek perumahan aktif di tengah hutan. Bangunan di PPLH seloliman didominasi dengan kayu sehingga semakin mengentalkan suasana menyatu dengan alam. Pengunjungnya tidak hanya penduduk sekitar saja, namun juga dari dalam kota hingga luar kota. Mulai dari kalangan masyarakat umum, pelajar TK, SD, SMP, SMA sampai dengan mahasiswa yang akan melakukan penelitian. Diperkenalkan kepada pengunjung berbagai macam konsep pengolahan teknologi berbasis ramah lingkungan yang dikembangkan oleh PPLH.
PPLH Seloliman juga menjadi salah satu tujuan objek wisata Internasional dan mempunyai empat program, antara lain sebagai berikut.
1)      Program pendidikan
2)      Program pertanian organic
3)      Program sumber daya
4)      Program usaha
Latar belakang diadakan pelatihan PPLH adalah untuk pemberdayaan masyarakat, pendidikan dan menambah pengalaman. Selain itu para peserta yang mengikuti pelatihan untuk diaplikasikan dalam lingkungan nyata. Adapun keunggulan PPLH Seloliman berupa penggunaan teknologi tepat lingkungan (TTL), yaitu: (1) biogas, (2) solar water heater/pemanas air tenaga surya, (3) water treatment, (4) solar cell, (5) solar ternal dryer, (6) Solar box cooker, dan (7) tungku serbuk gergaji. PPLH Seloliman membuka wawasan dan kepedulian pengunjung tentang lingkungan dan juga merasakan indahnya hidup di alam yang masih hijau.
Tugas penting yang di emban PPLH Seloliman pada dasarnya untuk mendorong terwujudnya kepedulian semua lapisan dan golongan masyarakat baik secara sendiri atau bersama terhadap lingkungan hidup di sekitarnya. Sehingga akan terwujud masyarakat lestari yang peduli terhadap lingkkungan hidupnya. Pada akhirnya kerusakan dan permasalahan lingkungan yang terjadi akibat aktifitas kehidupan sehari-hari dapat dikurangi atau bahkan dihindarkan. Dengan harapan Sumber Daya Alam (SDA) yang ada bisa terus dilestarikan dan akhirnya bisa dinikmati dan diwariskan kepada generasi mendatang. Tujuan tersebut kemudian diwujudkan dalam berbagai program dan kegiatan yaitu: (1) pendidikan lingkungan bagi proses penyadaran dan (2) pendampingan bagi pemberdayaan dan pengembangan masyarakat.
Adapun manfaat yang bisa dicapai PPLH Seloliman yaitu memberikan informasi dan pendidikan untuk membangun lingkungan hidup, antara lain sebagai berikut.
1)      Membangun kerja sama dengan masyarakat dalam upaya-upaya pelestarian dan pengelolaan lingkungan hidup secara bijak dan berkelanjutan dengan cara membantu dan menyebarluaskan informasi serta ilmu pengetahuan yang ramah lingkungan untuk meningkatkan kesejahteraaan dan perdamaian umat manusia.
2)      Sosialisasi pada seluruh lapisan masyarakat mengenai potensi dan indikator degradasi kualitas lingkungan hidup sebagai pembenahan kualitas lingkungan hidup perkotaan dan pendekatan kepada masyarakat secara langsung tentang masalah lingkungan.
3)      Penyuluhan dan pelatihan kepada pelajar mahasiswa sebagai generasi tentang keselarasan alam dan ramah lingkungan, serta berwawasan kearifan tradisional.

B.  Sejarah PPLH Seloliman Trawas Mojokerto
Seloliman Terawas Mojokerto  Proyek pembangunan PPLH di mulai pada pertengahan 1988 Dari Rp 150 jutadana yang di berikan oleh WWF. Rp 90 juta digunakan untuk membeli tanah seluas 3,7 hektar.

Gambar 1.1 Pintu masuk PPLH Seloliman Trawas Mojokerto
Di atas lokasi itu kemudian di bangun ruang seminar restoran,dan bangunan depan yang menghabiskan Rp.50 juta. Rancangan arsitektur kolek PPLH ini di rancangoleh Hans Ulrich Fuhrke, seorang arsitek berkebangsaan Jerman yang kemudian menjadi wakil Suryo di kepengurusan PPLH. Pada tanggal 15 MEI 1990. PPLH di buka secara resmi oleh pangeran Bernhard dari Belanda. PPLH juga merupakan sejarah peninggalan kerajaan majapahit.
PPLH saat ini berada di tiga tempat yakni di Jawa Timur, Sulawesi Selatan dan Bali. PPLH Trawas (Jawa Timur) berfokus pada pendidikan "darat", sedang PPLH Puntondo (Sulawesi Selatan) berfokus pada pendidikan "laut" dan PPLh Sanur (Bali) berfokus pada budaya, filsafat dan Urban Community. Inti dari setiap program PPLH adalah program yang bertujuan mengubah kesadaran, sikap dan perilaku masyarakat Indonesia agar lingkungan terlestarikan dan seimbang, sehat dan berkelanjutan.

C.  Penggunaan Teknologi Tepat Lingkungan (TTL)
1.      Solar Water Heater (Penghangat Air Tenaga Sinar Matahari)
Berbentuk pyramid memungkinkan menerima sinar matahari pada semua sisinya sehingga tidak usah mengggeser dan mengikuti sudut datangnya matahari. Sistem penghemat air ini menggunakan prinsip efek rumah kaca, yaitu panas yan gsudah masuk sulit untuk keluar, sehingga makin lama suhu yang ada di dalam semakin panas, semua dicat hitam agar dapat menyerap panas. Lebih efektif dan bahan sebaiknya dari bahan yang bersifat penghantar panas yang baik.
Salah satu pemanfaatan energi matahari secara langsung disini adalah alat yang difungsikan untuk menghasilkan air hangat secara mudah, efisien dan murah tidak berdampak negatif terhadap lingkungan. Sistem penghangat air ini menggunakan prinsip rumah kaaca, semua element yang ada didalamnya didalamnya di cat warna hitam agar menyerap panas dengan efektif.
Cara kerja solar water yaitu: (1) dibuat berbentuk piramid memungkinkan menerima panas/sinar matahari pada sisinya sehingga kita usah menggeser mengikuti sudut datangnya sinar matahari, (2) pada siang hari di dalam kaca akan menjadi begitu juga air dalam pipa dan tendon, (3) tandon air berbentuk piramid dihubungkan dengan tendon kecil lain, (4) kalau air diambil, permukaan air kedua tendon akan turun sedangkan pengesian tendon kecil dikontrol dengan pelampung
Bahan-bahan pembuatan solar water heater, yaitu: (1) kaca polos segitiga sama kaki ukuran alas 164cm dan tinggi 162cm sebanyak 4 lembar, tebal 5,5mm, (2) lem kaca (lem silicon), (3) pipa ½ dim 36 biji, (4) cat hitam secukupnya 1½ kg, (5) seng tebal 4 lembar, (6) solasi pipa 1 gulung, (7) paku 4 biji, (8) pembuatan bak beton (a) semen, (b) pasir, (c) kerikil, (d) besi beton 6mm (c) bekisting, (d) kayu, (e) paku reng dan (f) kawat, (9) alat control air (pelampung)


2.  Tungku Serbuk Gergaji
Tungku serbuk gergaji menyerupai tungku perbedaannya, tungku serbuk gergaji dapat dipindah-pindah. Tungku serbuk gergaji menyerupai tungku perbedaannya, tungku serbuk gergaji dapat dipindah-pindah. Bahan yang diperlukan untuk membuat tungku serbuk gergaji, yaitu: (1) kaleng cat besar bekas, (2) potongan bambu 2 buah, (3) serbuk kayu, korek api dan ranting kayu.
Adapun cara kerja tungku serbuk gergaji yaitu: (1) kaleng diberi 2 lubang atas dan samping bawah, (2) dimasukkan bambu yang fungsinya untuk bagian samping bawah, (3) memasukkan serbuk gergaji sebagai bahan bakar, dan (4) lubang bagian atas berfungsi untuk memberikan energi panas. Adapun serbuk bisa digunakan dari kayu, korek api dan ranting kayu

3.      Solar Cell
Listrik tenaga surya terjadi ketika sinar matahari menumbuh sebuah sel surya yang dapat mengubah energi cahaya menjadi energi listrik sel surya bekerja sberdasarkan prinsip photoelektrik, karena itu disebut photovotaic atau solar sel. Listrik tenaga surya terjadi ketika sinar matahari menumbuk sel surya yang dapat merubah energi cahaya menjadi energi listrik, sel surya bekerja berdasarkan prinsip efek photoelektrik, karena itu disebut photovoltalic atau solar sel (a) monokristakir adalah solar sel yang dibuat dari kristal silicon, (b) polikustaline/motikostaline adalah sel yang dibuat banyak kristal silicon, dan (c) amoplour.
Adapun cara kerja solar sel yaitu sinar matahari yang bermuatan energi tinggi yang disebut proton menumbuk sebuah sel surya. Electron pada sel surya yan gditumbuk pohon menjadi elektron bebas kemudian mengalir sebagai arus listrik solar sel dibuat dari bahan semi konduktor adalah menghantarkan listrik pada suhu yang rendah.

4.      Solar Box Cooker
Sinar matahari juga dapat dimanfaatkan untuk memasak, yaitu sebuah reflektor dengan daya tangkap sinar matahari ekstra yang juga akan berfungsi sebagai penutup/jendela solar box. Hampir setiap orang tahu bagaimana memasak dengan api, sinar matahari juga bisa dimanfaatkan untuk memasak, sekarang bahan bakar mengakibatkan polusi tanah dan udara. Pengundulan hutan berdampak sangat komplek bila pohon hilang akan terjadi erosi tanah.
Adapun cara kerja solar box cooker yaitu: (1) secara refkection dengan daya tangkap sinar matahari ekstra juga akan berfungsi sebagai penutup/jendela solar box, (2) panci berwarna gelap yang tertutup dengan penampang gelap mengubah sinar matahari menjadi panas, (3) box yang disekat menjadi panas untuk memasak makan di panci, (4) bagian box yang mengikat memantulkan cahaya ke panci tertutup atau gelap serta sebuah penampang dasar yang juga gelap dimana energi sinar matahari panas.

5.      Water Treatment
Salah satu untuk membersihkan air tercemar tanpa bahan kimia, sehingga tidak ada dampak lain terhadap lingkungan sekitar akibat proses. Keuntungan dari sistem ini lebih murah dari pengolahan lain tidak memerlukan energi untuk prosesnya. Water treatment salah satu cara untuk membersihkan air tercemar tanpa bahan kimia sehinggatidak ada dampak lain terhadap lingkungan sekitar akibat proses tersebut,keuntungan penyaringan menggunakan tumbuhan adalah tanpa mengeluarkan uang dan tidak memerlukan energi.
Adapun cara pengolahan air dengan tumbu-tumbuhan, sebagai berikut.
1)      Tempat masukan air
Dari septic tank (bak pertama) ukuran 2,5 x140,45 mm di isi dengan kerikil kasar berdiameter 12mm, dengan tanaman karena fungsi bagian ini adalah untuk sementara. Di sini mulai proses aerob dengan bantuan bakteri.

2)       Pengolahan air 
Bak pertama ukuran 2,5 x 8,4 x 0.5 m di isi dengan kerikil halus yang berdiameter 3-12 mm karma macam & rumput. Fungsi bak kedua, yaitu: (1) Untuk proses anaerob dan aerob, (2) Untuk mengoksidasi zat organic dan zat gizi tanah, (3) Mengurai bakteri pathogen, produksi makanan ternak, (4) Memanfaatkan gizi dalam tanah.

3)       Campuran air 
Bak ukuran 2,5 x 2,6 x 0,55 mm di isi kerikil halus (pasir)

6.      Solar Ternal Dryer
7.                Alat pengering menggunakan sinar matahari berbentuk piramida memungkinkan menerima sinar matahari pada semua sisinya sehingga tidak perlu menggeser mengikuti sudut datangnya sinar matahari, suhunya tidak boleh melebihi 600C dan dibuat fentilasi untuk memudahkan sirkulasi udara. Solar ternal dryer merupakan pengeringan menggunakan sinar matahari berbentuk pyramidmemungkinkan menerima sinar matahari pada semua sisinya, sehingga kita tidak usah menggeser mengikuti datangnya sudut siar matahari. Suhu di dalamnya tidak boleh melebihi 600C, yang dikeringkan adalah tumbuhan Simplizia ( tanaman obat yang di keringkan) seperti daun belanda yaitu untuk mengurangi berat badan, di bagian bawah di buat vertilasi untuk membuat sirkulasi lebih gampang, sehingga memepercepat proses pengeringan

8.      Biogas
Gas yang berasal dari kotoran hewan yang sudah melalui beberapa proses seperti pengendapan, penguapan, terus uapnya ditampung di sebuah tabung dan gas tersebut bisa digunakan untuk memasak, karena biogas itu setara dengan gas LPG. Biogas merupakan energi yang dihasilkan dari limbah (sapi, manusia,tahu, dll). Energi yang dihasilkan dapat digunakan sebagai lampu penerangan dan memasak.
Adapun cara kerja biogas yaitu: (1) kotoran ternak dimasukkan ke degaster/tandon ukuran ½ dari besar tendon, (2) tandon harus dikasih angin untuk membantu proses fermentasi, (3) tutup rapat dibiarkan selama 1-2 minggu agar terjadi fermentasi yang dibantu udara, (4) tandon ada pipa penghubung ke kompor, pipa penyimpanan gas/tandon gas (bisa menggunakan plastik), (5) jarak degaster ke kompor maximal 50 meter, (6) Setiap harinya kotoran ternak 5kg dan air 5lt (1:1).

BAB III
PENUTUP
A.  Kesimpulan
Sinar matahari mempunyai peranan yang sangat penting bagi makhluk hidup sebagai sumber energi, tapi selain itu sinar matahari juga bisa di manfaatkan untuk memasak, listrik, pengeringan, pemanas air semua itu bisa di gunakan denganmemanfaatkan sinar matahari tanpa adanya pencemaran polusi maka dari itu kita harusmemanfaatkan sinar matahri tersebut dengan sebaik-baik mungkin. Pusat pendidikan lingkungan hidup (PPLH) memberikan banyak pengetahuan, diantaranya kita bisa mengetahui merbagai macam teknologi tepat lingkungan (TTL).

B.  Saran-saran
Saran penulis dengan adanya teknologi tepat lingkungan ini bisa memanfaatkan sinar matahari untuk berbagai kebutuhan hidup, tidak mengandung bahan-bahan kimia dantidak menyebabkan polusi/dampak negatif.

10 April 2016

Atur dan awasi lingkungan studi komparatif UU No. 23 Tahun 1997 dengan UU No. 2009

UU No 23 tahun 1997 dianggap memiliki banyak kelemahan terutama dalam hal penanganan kasus sengketa lingkungan hidup. Ada tiga masalah mendasar yang terlupakan dalam UU 23 tahun 1997 antara lain :

  1. Persoalan subtansial yang berkaitan dengan; pendekatan atur dan awasi (command and control) Amdal maupun perizinan; lemahnya regulasi audit lingkungan; belum dijadikannya Amdal sebagai persyaratan izin dan tidak tegasnya sanksi bagi pelanggaran Amdal; penormaan yang multi tafsir; lemahnya kewenangan Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) dan Pegawai Pengawas Lingkungan Hidup (PPLH); delik pidana yang belum mengatur hukuman minimum; multi tafsir soal asas subsidiaritas dan belum adanya regulasi aturan yang spesifik yang berhubungan dengan perubahan iklim dan pemanasan global.
  2. Masalah struktural yaitu berhubungan dengan paradigma pembangunan berkelanjutan (sustainable development) yang belum dijadikan maenstream dalam memandang lingkungan.
  3. Problem ketiga adalah problem kultural yaitu masih rendahnya kesadaran masyarakat tentang lingkungan.
UU No 32 tahun 2009 menyempurnakan sejumlah kelemahan mendasar dalam UU sebelumnya dan  secara komprehensif mengatur segala hal yang berkaitan dengan problem lingkungan. Keistimewaan itu antara lain :
  1. Dalam aturan yang baru tersebut, terdapat pengaturan yang jelas antara kewenangan pusat dan daerah dalam hal pengawasan LH. Penguatan instrumen pencegahan pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup, yang meliputi; instrumen Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS), tata ruang, baku mutu lingkungan hidup, kriteria baku kerusakan lingkungan hidup, AMDAL, upaya pengelolaan lingkungan hidup dan upaya pemantauan lingkungan hidup, perizinan, instrumen ekonomi lingkungan hidup, peraturan perundang-undangan berbasis lingkungan hidup, anggaran berbasis lingkungan hidup, analisis risiko lingkungan hidup, dan instrumen lain yang sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
  2. Pendayagunaan perizinan sebagai instrumen pengendalian. Perizinan lingkungan menjadi syarat utama berdirinya suatu badan usaha, ketika suatu perusahaan tidak memenuhi syarat lingkungan maka dinyatakan tidak bisa menjalankan usaha. Izin lingkungan yang bermasalah bahkan bisa membatalkan pendirian usaha.
  3. Adanya pendayagunaan pendekatan ekosistem (eco region) juga menjadi fokus utama UU No 32 tahun 2009. Memuat pula tentang kepastian dalam merespons dan mengantisipasi perkembangan lingkungan global dan penguatan demokrasi lingkungan melalui akses informasi, akses partisipasi, dan akses keadilan serta penguatan hak-hak masyarakat dalam perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup.
  4. Hal paling mendasar adalah penegakan hukum perdata, administrasi, dan pidana secara lebih jelas. Ditunjang pula dengan penguatan kelembagaan perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup yang lebih efektif dan responsif dan penguatan kewenangan Pejabat Pengawas Lingkungan Hidup (PPLH) dan Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) lingkungan hidup.
  5. Undang-Undang ini memberikan kewenangan yang luas kepada Menteri untuk melaksanakan seluruh kewenangan pemerintahan di bidang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup serta melakukan koordinasi dengan instansi lain. Pemerintah memberi kewenangan yang sangat luas kepada pemerintah daerah dalam melakukan perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup di daerah masing-masing yang tidak diatur dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup.


Jika diperinci uraian perbedaan antara UU No. 23 tahun 1997 dengan UU No. 32 tahun 2009 maka adalah sebagai berikut :
Bahan Perbandingan
UU No. 23 tahun 1997
UU No. 32 tahun 2009
Kewenangan Pusat dan daerah
Tidak terlalu detail dijelaskan pembagian kewenangan antara pusat dan daerah
Pembagian tugas dan kewenangan jelas dalam pasal 63-64
2.      Upaya pengendalian lingkungan hidup
Belum diatur secara jelas dan terpisah
Diatur dalam BAB V tentang pengendalian
3.      Instrumen pencegahan pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup
Diatur dengan peraturan pemerintah (pasal 14)
Meliputi KLHS, baku mutu lingkungan hidup, kriteria baku kerusakan lingkungan hidup, dll
4.      Unsur-unsur Pengelolaan lingkungan hidup
Unsur pengelolaan lingkungan hidup tercantum dalam pasal 1 ayat 1-25
Penambahan unsur antara lain RPPLH, KLHS, UKL-UPL, Perubahan iklim, dll
Pendayagunaan perizinan sebagai instrumen pengendalian
kegiatan yang menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup wajib memiliki amdal
dokumen amdal akan dinilai oleh komisi penilai yang dibentuk oleh menteri, gubernur/walikota
Pendayagunaan pendekatan ekosistem
tidak ada penetapan wilayah ekoregion
Ada wilayah ekoregion
Denda pidana
Denda paling sedikit sebesar Rp 100.000.000,00 (seratus juta rupiah)
Denda paling sedikit Rp 1000.000.000,00 (satu milyar rupiah)
Pengawasan
Dibentuk suatu lembaga khusus oleh pemerintah
pejabat pengawas lingkungan hidup berkoordinasi dengan penyidik PNS
Landasan Filosofis
Belum
landasan filosofi tentang konsep pembangunan berkelanjutan dan berwawasan lingkungan dalam rangka pembangunan ekonomi . Ini penting dalam pembangunan ekonomi nasional

04 April 2016

C. Wright Mills dan Studi tentang Kekuasaan

Pada tahun 1950-an, seorang Sosiolog ( C.Wright Mills ) mengetengehakan apa yang dianggapnya sebagai serangkaian beban berat dan isu zaman mulai dari kuba yang dipimpin Castro sampai pada kemungkinan perang dunia ketiga. Salah satu masalah yang dibesar – besarkan Mills dalam membahas “beban “ itu, dan untuk saat ini muncul sebagai masalah yang sangat relevan, ialah studi tentang kekuasaan. Jehidupan sosial dilihat mills sebagai pertarungan kekuasaan yang tanpa akhir yang kadang – kadang berupa konfrontasi fisik berupa perang, tetapi lebih sering ialah perjuangan politis dan simbolis.

Dengan mengukuhkan studinya secara tegas pada perspektif historis, Mills( 1963: 25 ) menulis ,”Saya harus menyatakan bahwa “ Manusia bebas membuat sejarahnya”, tetapi beberapa dari mereka ternyata jauh lebih bebas dibanding yang lain, karena kebebasan yang demikian memerlukan jalur masuk agar sampai pada sarana – sarana keputusan dan kekuasaan dengan apa sejarah itu dapat di buat”.

Horowitz ( 1965 : 17 ) meringkas keprihatinan sosiologis Mills itu sebagai berikut:

Semangat untuk mengembalikan sosiologi kepada masyarakat dari mana dia berasal, sesungguhnya merupakan tindakan deprofesionalisasi sosiologi. Berdasarkan atas pendapat Mills bahwa pada dasarnya, manusia memang tidak rasional, makhluk yang hanya tanggap pada impuls, slogan politik, status, simbol dan sebagainya, untuk ini sosiologi menyediakan sarana sebagai pembuang sifat egois, picik, dan kebanggaan ( yang tak layak ) pada dongeng dan ketika manusia tumbuh dewasa, sosiologi menolongnya untuk “mengetahui dimana dia berada”, ke mana boleh pergi, dan apa jika ada yang dapat dilakukan saat ini sebagai sejarah dan di masa depan sebagai pertanggungjawaban”.

Kelas Menengah Amerika : karyawan Berkerah Putih

Mills mengakui bahwa kelas menengah berkembang sebagai penunjang yang tidak di harapkan antara produsen dan kelas pekerja upahan. Karl Marx, ahli teori klasik yang menulis tentang kesengsaraan buruh – buruh di abad kesembilan belas, gagal melihat perkembangan kelas menengah yang sangat luas di masyarakat industri. “Aktor – aktor yang baru lahir ini, melaksanakan pekerjaan rutin masyarakat abad puluh ( Mills,1951 : 4 ) tetapi mereka tidak bebas seperti para pengusaha di masa sebelumnya. Kelas menengah baru lahir sebagai bagian dari penduduk amerika. Mereka terdiri dari para manager, buruh upahan, salesmen, dan pekerja kantor. Sebagian besar karyawan berkerah putih ini ( White Collar- Workers ), istilah yang digunakan Mills, adalah sosok menyedihkan yang semakin kehilangan kekuatan pribadinya. Kesengsaraan ini di tandai oleh keterasingan mereka terhadap kerja maupun terhadap dirinya.

Pengembangan tesis tentang karyawan berkerah putih itu di bangun Mills diatas teori alienasi Marx. Marx menegaskan bahwa kerja telah memisahkan manusia dari dunia binatang. Manusia mengungkapkan kemanusiaannya lewat tenaga kerja, yang mungkin sebagai tukang kebun, pandai besi,dll. Isu keterasingan dari paham Marxis inilah yang berfungsi sebagai dasar pembahasan Mills tentang kelas menengah Amerika. Mills ( 1951 : xvi – xvii) mengungkapkan hal tersebut lewat cara berikut ini :

Dalam kasus karyawan berkerah putih, keterasingan pekerja upahan dari hasil kerjanya di bawa selangkah lebih dekat ke arah penyelesaian “kafka-like”.Karyawan yang digaji itu tidak membuat apa – apa, walaupun dia mampu menangani sejumlah hal yang sangat diinginkannya tetapi itu tidak pernah bisa. Tak ada hasil seni ukir dapat menjadi miliknya dengan maksud sebagai kesenangan ketika barang itu sedang atau setelah diciptakan. Karena terasing dari setiap hasil pekerjaannya, dan selama bertahun – tahun menghabiskan waktu dengan pekerjaan rutin, akibatnya mereka menggunakan waktu luang pada hiruk pikuk hiburan palsu yang ada, dan berperan serta dalam kegembiraan semu yang tidak memberikan ketentraman dan rasa bebas. Mereka bosan bekerja, dan muak berkreasi, dan selingan yang mengerikan ini sangat menjemukan.

Mills ( 1951 : 3 – 12 ) menggunakan sejarah untuk menjelaskan kembali dunia pengusaha kecil di zaman yang silam. Mereka digambarkan Mills sebagai “orang bebas, bukan orang yang terikat, orang yang merdeka, bukan orang yang dibatasi oleh tradisi” dalam struktur di mana “kebebasan individual kelihatan sebagai aturan sosial”. Rasa kurang aman para pengusaha kecil dalam masyarakat modern yang sedang berubah itu membenturkan kebebasan yang sudah ada pada kerangkeng struktur “pencarian, yang dilakukan dengan agak marah, sarana – sarana keselamatan yang bersifat politik”. Kecenderungan itu termasuk (1 ) hilangnya prestise bilamana dibanding dengan pengusaha tipe lama;(2) merosotnya pendapatan riel “sampai hanya sedikit diatas, dan dalam beberapa kasus penting, lebih rendah, ketimbang pendapatan rata – rata berbagai kelompok pekerja upahan”; (3) mekanisasi jabatan, yang mengancam eksistensi sekian lapangan kerja yang dipegang oleh karyawan yang berkerah putih;dan(4) pembatasan otonomi pekerja kantor ( Mills, 1952: 32-33).

REFERENSI

M.Poloma, Margaret.2000. Sosiologi Kontemporer. PT.RajaGrafindo Persada, Jakarta.

03 April 2016

Imajinasi Sosiologis; Sintesis Psikologi Sosial dengan Strukturalisme Konflik C. Wright Mills)

A. Pendahuluan
Sosiologi merupakan salah satu cabang ilmu yang paling komplek substansinya dalam peradaban dunia keilmuan. Berbagai macam istilah keilmuan tentunya bisa bersanding atau dipersandingkan kepadanya. Sosiologi Hukum, Sosiologi Politik, Sosiologi Komunikasi, Sosiologi Pendidikan serta banyak lagi keilmuan lain yang bisa disandingkan termasuk juga Psikologi Sosial yang akan kita bahas pada kesempatan kali ini. Namun, kekomplekan keilmuan sosiologi inilah yang semestinya harus menjadi pikiran utama para Sosiolog untuk mensinkronkan keilmuan sehingga tidak terjadi sebuah kerancuan pemikiran atau parahnya ketidakjelasan keilmuan sosial. Maka dari itulah sub-sub dari keilmuan itu muncul dipermukaan untuk menjelaskan keterkaitan problem masyarakat yang ada sesuai kebutuhan dan obyektifitasnya. 
Begitu pula hal ini sebagai sebuah paduan keilmuan yang diambil dari dua paradigma berbeda tergabung menjadi satu yakni Psikologi Sosial. Sebuah analisis menarik tentu nantinya ketika hal demikian bisa dipelajari dan dipahami secara mendalam dan sistematis. Belum lagi dua hal tadi di sintesiskan dengan dua teori yakni Strukturalisme Konflik yang juga digabung dalam sebuah kajian yang di gagas oleh C. Wright Mills. Kelihatannya menarik, tapi kayaknya cukup membingungkan dan rumit pula. Meski demikian kami mencoba untuk mempelajari, memahami dan membahas teori ini sebagai sebuah tanggungjawab keilmuan kami guna kemajuan dan daya nalar kritis untuk menjelaskan problem, problem solving terkait peristiwa demi peristiwa yang muncul di masyarakat. Artinya memang, karena keberlangsungan kehidupan masyarakat merupakan tanggungjawab bersama sebagai insan penerus cita-cita ke-rasulan. Mungkin untuk lebih jelasnya kami mencoba menguraikan meski dianggap tidak tepat dan sesempurna teoritisi maksudkan. 

B. Sekilas Tentang C. Wright Mills 
Dengan latar belakang keluarga kelas menegah konvensional: ayahnya seorang broker asuransi sedangkan ibunya adalah ibu rumah tangga. Mills lahir pada 28 Agustus 1916 di Waco, Texas. Ia kuliah di Universitas Texas dan menjelang 1939 dia mendapat gelar sarjana dan master. Mills adalah mahasiswa yang luar biasa, dimana sampai dia meninggalkan Texas dia telah mempublikasikan artikel-artikel di dua jurnal sosiologi utama. Mills mendapat gelar Ph.D. di Universitas Wisconsin. Dia mengajar pertama di Universitas Maryland, tetapi kemudian menghabiskan sebagian besar karirnya, dari 1945 sampai meninggal, di Universitas Columbia. Ia meninggal karena serangan jantung pada usia 45 tahun meski demikian ia sudah banyak memberikan kontribusi penting bagi sosiologi.
Mills mempunyai kehidupan pribadi yang penuh gejolak, yang dicirikan oleh baynak jalinan asmara, tiga perkawinan dan seorang anak dari tiap-tiap perkawinannya. Dia juag menjalani kehidupan profesional yang penuh pertempuran. Dia kelihatannya bertikai dengan siapa saja dan dengan segala hal. Saat Mills masih mahasiswa di Wisconsin, dia kerap berselisih dengan banyak profesornya. Kelak dalam salah satu esainya, dia terliabat dalam kritik terselubung terhadap mantan ketua jurusan di Wisconsin. Dia menyebut teoritisi seniornya di Wisconsin, Howard Becker, sebagai “dungu banget” dan akhirnya ia pula berkonflik dengan Hanz Gerth, rekan penulisnya, yang menyebut Mills sebagain “operator hebat”, pemuda congkak yang menjanjikan dan koboi Texas. Mills terisolasi dan di asingkan oleh kolega-koleganya.meski ia seorang profesor ternama di Columbia. Mills menentang tidak hanya teoritisi dominan pada masanya Talcott Parsons, tetapi juga metodologis dominan, Paul Lazarsfeld, yang juga kolega di Columbia. Ia selalu bertentangan dengan orang; dia juga dengan masyarakat Amerika dan menantangnya dalam berbagai front. Tetapi barangkali yang paling menonjol adalah fakta bahwa ketika Mills mengunjungi Uni Soviet dan dihormati sebagai kritikus masyarakat utama, dia memanfaatkan kesempatan itu untuk menyerang sensor di Uni Soviet denagn bersulang kepada seorang pemimpin Soviet awal yang dilenyapkan oleh Stalinis. 

C. Pemikiran Teori C. Wright Mills
Dengan imajinasi sosiologis seseorang dapat memahami pandangan historis yang lebih luas; dari segi pengertiannya terhadap hakikat kahidupan (inner life) dan kebutuhan kehidupan (external career) berbagai individu. Dengan menggunakan itu dia dapat melihat bagaimana individu-individu, dalam keruwetan pengalaman sehari-harinya sering mengisruhkan posisi sosial mereka. Dalam keruwetan itu dicari kerangka masyarakat modern dan dalam kerangka demikian psikologi berbagai manusia dirumuskan. Dengan sarana-sarana itu kegelisahan pribadi para individu dipusatkan pada kesulitan-kesulitan eksplisit dan kesamaan-kesamaan publik diubah menjadi keterlibatan dengan isu publik (Mills1959:5). 
Demikian sebuah kutipan Mills yang sedikit mengungkapkan teorinya tentang psikologi sosial akibat kegelisahan dan problem individu yang sedang di hadapi sehingga mempengaruhi keadaan sosial yang ada dalam masyarakat. Di lain pihak keadaan struktur dalam lembaga atau organisasi masyarakat berada dalam keadaan kurang stabil sebagai akibat dari konstelasi konflik kepentingan yang berkepanjangan. Keadaan yang kurang kondusif dalam masyarakat dinilai sebagai pengaruh atau disebabkan oleh keadaan individu yang sedang gelisah/berada dalam tekanan dan keruwetan pengalaman yang dihadapi.
Disamping itu ada dua model identifikasi penelitian sosiologis yang kemudian di sintesisikan oleh Mills yang disebut Imajinasi Sosiologis. Imanjinasi Sosiologis ini gabungan dari dua penelitian yang diidentifikasikan oleh Mills Makroscopik dan Molekular. Makroskopik, behubungan dengan keseluruhan struktur sosial dalam cara perbandingan; beruang lingkup sama dengan ruang lingkup ahli sejarah dunia, mencoba menampilkan tipe-tipe fenomena historis, dan secara sistematis menghubungkan berbagai lingkungan institusional masyarakat yang kenudian dikaitkan dengan tipe-tipe manusia yang ada. Molekular, ditandai dengan masalah-masalah berskala kecil dengan kebiasaan menggunakan model verifikasi statistik.
Imajinasi sosiologi merupakan kemampuan untuk mengkap sejarah dan biografi serta daya gunanya dalam masyarakat. Mills menambahkan pada tekanan sosial psikologis terletak di dimensi sejarah dan kesadaran akan pengaruh kekuasaan terhadap struktur sosial. Kepercayaan terhadap kebebasan manusia untuk mengubah sejarah, menyebabkan dia menuntut pembaharuan sosiologi yang bermanfaat bagimasyarakat. 
Psikologi Sosial Mills didasarkan atas kecenderungan individu untuk terlibat dalam masyarakat dan struktur sosial dan lembaga-lembaga sosial yang ada. Individu diasumsikan mampu untuk merubah pola-pola yang ada dalam struktur dengan kesadaran sejarah atau pengalaman yang ia refleksikan dalam kehidupanya. Artinay bahwa kebebasan individu dan kesadarannya pada masyarakat dan lembaga ditentukan oleh tingkah laku individu yang sedang dalam keadaan goncang atau kerumitan yang ia alami di lingkungannya.
Sementara itu kekuasaan yang ada dalam lembaga tertentu di senantiasa berada dalam tingkat konflik yang terus berkepanjangan antara individu yang mempunyai tingkat sejarah dan pengalaman berbeda dalam refleksi problemnya, sehingga kekacauan yang ada dilembaga terletak pada individu itu sendiri yang mampu merubah dan menggeser struktur yang telah ada. Kerumitan dan kegoncangan yang telah ada pada masing-masing individu menjadi titik temu yang signifikan dalam perubahan lembaga tersebut. 



Daftar Pustaka

- Polloma, Margaret M. Sosiologi Kontemporer, Rajawali Pers, Jakarta, 2007
- George Ritzer-Douglas J. Goodman, Teori Sosiologi Modern, Prenada Media, 

31 Maret 2016

Peristiwa Gerakan 30 September PKI 1965 dan kontinunitas sejarah serta dampaknya

Hingga sampai saat ini, peristiwa 30S PKI tetap menjadi perdebatan antara benar atau tidaknya PartaiKomunis Indonesia yang bertanggung jawab dalam peristiwa tersebut.

Sejarah Peristiwa 30S PKI

Partai Komunis Indonesia
keepo.me
Sebelum peristiwa 30S PKI terjadi, Partai Komunis Indonesia sempat tercatat sebahgai Partai Komunis terbesar di dunia tanpa harus dengan menghitung beberapa partai komunis yang tersebar di Uni Soviet dan Tiongkok.
Semenjak dilakukannya audit  pada tahun 1965, hampir lebih dari 3,5 juta pengguna aktif yang bernaung dalam partai ini. Hitungan itupun belum termasuk dengan 3 juta jiwa yang menjadi kader dalam anggota pergerakan pemuda.
Disisi lain, PKI juga memiliki hak kontrol secara penuh terhadap pergerakan buruh, kurang lebih 3,5 juta orang lagi telah ada di bawah pengaruhnya. Belum sampai disitu, masih ada 9 juta anggota lagi yang terdiri dari gerakan petani dan beberapa gerakan lain, misal pergerakan wanita, pergerakan sarjana dan beberapa organisasi penulis yang apabila dijumlahkan bisa mencapai angka 20 juta anggota beserta para pendukungnya.
Masyarakat curiga karena adanya isu yang menyatakan bahwa PKI adalah dalang dibalik terjadinya peristiwa 30 September yang bermula dari kejadian di bulan Juli 1959, yang mana pada saat itu parlemen sedang di bubarkan dan Soekarno sendiri justru menetapkan bahwa konstitusi harus berada di bawah dekrit presiden.
PKI berdiri dibelakang dukungan penuh dekrit presiden Soekarno. Sistem Demokrasi Terpimpin yang diperkenalkan oleh Soekarno juga disambut denngan gembira oleh PKI.   Karena dengan adanya sistem ini PKI diyakini mampu menciptakan sebuah persekutuan konsepsi Nasionalis, Agama dan Komunis yang kemudian disingkat dengan NASAKOM.

Kronologi Peristiwa G 30 S PKI

Pengangkatan Jenazah G30S PKI di Lubang Buaya
indocropcircles.wordpress.com
Peristiwa G30S PKI bermula pada tanggal 1 Oktober. Dimulai dengan kasus penculikan 7 jendral yang terdiri dari anggota staff tentara oleh sekelompok pasukan yang bergerak dari Lapangan Udara menuju Jakarta daerah selatan. Tiga dari tujuh jenderal tersebut diantaranya telah dibunuh di rumah mereka masing-masing, yakni Ahmad Yani, M.T. Haryono dan D.I. Panjaitan.
Sementara itu ketiga target lainya yaitu Soeprapto, S.Parman dan Sutoyo ditangkap secara hidup-hidup. Abdul Harris Nasution yang menjadi target utama kelompok pasukan tersebut, berhasil kabur setelah berusaha untuk melompati dinding batas kedubes Irak.
Abdul Harris Nasution melarikan diri
jurnalisjh.blogspot.com
Meskipun begitu, Pierre Tendean beserta anak gadisnya. Ade Irma S. Nasution ditangkap tertembak tewas pada 6 Oktober oleh regu sergap. Korban tewas semakin bertambah disaat regu penculik menembak serta membunuh seorang polisi penjaga rumah tetangga Nasution. Abert Naiborhu menjadi korban terakhir dalam kejadian ini. Mayat Jenderal yang masih hidup dibunuh dan dibuang di Lubang Buaya tepat sebelah markas tersebut.
Sekitar 2.000 pasukan diterjunkan untuk menduduki sebuah tempat yang kini dikenal dengan nama Lapangan Merdeka, Monas.  Walaupun mereka belum berhasil mengamankan bagian timur dari area ini. Sebab saat itu merupakan daerah dari Markas KOSTRAD pimpinan Soeharto.
Jam 7 pagi, Radio Republik Indonesia (RRI) menyiarkan sebuah pesan yang berasal dari Untung Syamsuri, Komandan Cakrabiwa bahwa G30 S PKI telah berhasil diambil alih di beberapa lokasi stratergis Jakarta beserta anggota militer lainnya. Mereka bersikeras bahwa gerakan tersebut sebenarnya didukung oleh CIA yang bertujuan untuk melengserkan Soekarno dari posisinya.
Tinta kegagalan tertulis dalam sejarah peristiwa G30S/PKI karena mereka melewatkan Soeharto yang mereka kira bujan seorang tokoh politik. Salah seorang tentangga beliau memberi tahu pada Soeharto tentang hilangnya para Jenderal serta penembakan yang terjadi pada jam setengah 6 pagi. Mendengar berita tersebut, Soeharto pun segera bergerak ke Markas KOSTRAD dan menghubungi anggota angkatan laut dan polisi.
Presiden Soekarno dan Soeharto
teukuayudin.wordpress.com
Soeharto juga berhasil membujuk dua dari batalion pasukan kudeta untuk menyerah. Dimulai dari pasukan Brawijaya yang masuk ke dalam area markas KOSTRAD. Kemudian disusul dengan pasukan Diponegoro yang kabur menuju Halim Perdana Kusuma.
Kudeta ini juga gagal dikarenakan perencanaan yang kirang matang. Sehingga kondisi ini menyebabkan para tentara yang berada di Lapangan Merdeka  kehausan akan impresi  mereka untuk melindungi Presiden di Istana.

Berakhirnya Peristiwa G 30 S PKI

Lubang Buaya
G 30 S PKI bisa berakhir pada jam 7 malam, pasukan pimpinan Soeharto berhasil mengambil alih atas semua fasilitas yang sebelumnya pernah dikuasai oleh G 30 S PKI. Jam 9 malam Soeharto bersama dengan Nasution mengumumkan bahwa sekarang ia tengah mengambil alih tentara yang pernah dikuasai oleh PKI dan akan tetap berusaha untuk menghancurkan pasukan kontra-revolusioner demi melindungi posisi Soekarno.
Soeharto melayangkan kembali sebuah ultimatum yang kali ini ditujukan khusus kepada pasukan di Halim. Tak berapa lama kemudian, Soekarno meninggalkan halim perdana kusuma untuk segra menuju ke istana presiden lainnya yang ada di Bogor. Ketujuh jasad orang yang terbunuh dan terbuang di Lubang Buaya pada tanggal 3 Oktober berhasil ditemukan dan dikuburkan secara layak pada tanggal 5 Oktober.

Analisis Peristiwa G 30 S PKI 1965 dan dampak yang ditimbulkannya sebagai kontinunitas sejarahnya


A. Menganalisis Latar belakang gerakan 30S/PKI


PKI merupakan par Stalinis yang terbesar di seluruh dunia, di luar Tiongkok dan Uni Sovyet.Anggotanya berjumlah sekitar 3,5 juta, ditambah 3 juta dari pergerakan pemudanya. PKI juga mengontrol pergerakan serikat buruh yang mempunyai 3,5 juta anggota dan pergerakan petani Barisan Tani Indonesia yang mempunyai 9 juta anggota. Termasuk pergerakan wanita (Gerwani), Organisasi penulis dan artis dan pergerakan sarjananya, PKI mempunyai lebih dari 20 juta anggota dan pendukung.


Pada bulan Juli 1959 parlemen dibubarkan dan Sukarno menetapkan konstitusi di bawah dekrit presiden - sekali lagi dengan dukungan penuh dari PKI. Ia memperkuat tangan angkatan bersenjata dengan mengangkat para jendral militer ke posisi-posisi yang penting. Sukarno menjalankan sistem "Demokrasi Terpimpin". PKI menyambut "Demokrasi Terpimpin" Sukarno dengan hangat dan anggapan bahwa dia mempunyai mandat untuk persekutuan Konsepsi yaitu antara Nasionalis, Agama dan Komunis yang dinamakan NASAKOM. Pada era "Demokrasi Terpimpin", kolaborasi antara kepemimpinan PKI dan kaum burjuis nasional dalam menekan pergerakan-pergerakan independen kaum buruh dan petani, gagal memecahkan masalah-masalah politis dan ekonomi yang mendesak. Pendapatan ekspor menurun, foreign reserves menurun, Inflasi terus menaik dan korupsi birokrat dan militer menjadi wabah.


Angkatan kelima
Perayaan Milad PKI yang ke 45 di Jakarta pada awal tahun 1965
Perayaan Milad PKI yang ke 45 di Jakarta pada awal tahun 1965


Pada kunjungan Menlu Subandrio ke Tiongkok, Perdana Menteri Zhou Enlai menjanjikan untuk mempersenja 40 batalion tentara secara lengkap, penawaran ini gratis tanpa syarat dan kemudian dilaporkan ke Bung Karno tetapi belum juga menetapkan waktunya sampai meletusnya G30S. Pada awal tahun 1965 Bung Karno mempunyai ide tentang Angkatan Kelima yang berdiri sendiri terlepas dari ABRI. Pandangan lain mengatakan bahwa PKI-lah yang mengusulkan pembentukan Angkatan Kelima tersebut dan mempersenja mereka. Tetapi petinggi Angkatan Darat tidak setuju dan hal ini lebih menimbulkan nuansa curiga-mencurigai antara militer dan PKI.


Dari tahun 1963, kepemimpinan PKI makin lama makin berusaha menghindari bentrokan-bentrokan antara Aktivis massanya dan polisi dan militer. Pemimpin-pemimpin PKI mementingkan "kepentingan bersama" polisi dan "rakyat". Pemimpin PKI DN Aidit mengilhami slogan "Untuk Ketentraman Umum Bantu Polisi". Di bulan Agustus 1964, Aidit menganjurkan semua anggota PKI membersihkan diri dari "sikap-sikap sektarian" kepada angkatan bersenjata, mengimbau semua pengarang dan seniman sayap-kiri untuk membuat "massa tentara" subyek karya-karya mereka.


Di akhir 1964 dan permulaan 1965 ratusan ribu petani bergerak merampas tanah dari para tuan tanah besar. Bentrokan-bentrokan besar terjadi antara mereka dan polisi dan para pemilik tanah. Untuk mencegah berkembangnya konfrontasi revolusioner itu, PKI mengimbau semua pendukungnya untuk mencegah pertentangan menggunakan kekerasan terhadap para pemilik tanah dan untuk meningkatkan kerjasama dengan unsur-unsur lain, termasuk angkatan bersenjata. Pada permulaan 1965, para buruh mulai menyita perusahaan-perusahaan karet dan minyak milik AS. Kepemimpinan PKI menjawab ini dengan memasuki pemerintahan dengan resmi. Pada waktu yang sama, jendral-jendral militer tingkat tinggi juga menjadi anggota kabinet. Menteri-menteri PKI tidak hanya duduk di sebelah para petinggi militer di dalam kabinet Sukarno ini, tetapi mereka terus mendorong ilusi yang sangat berbahaya bahwa angkatan bersenjata adalah merupakan bagian dari revolusi demokratis "rakyat".


B. Menganalisis kronologis peristiwa gerakan 30S/PKI


Tahap persiapan PKI dan tindakan :

1. Membentuk ormas-ormas, seperti : SOSBI (Kaum Buruh), BTI (Kaum Tani), GERWANI, dan LEKRA.
2. Mengusulkan terbentuknya angkatan ke-5.
3. Memfitnah AD dengan isu Cup Dewan Jenderal.
4. Merebut sarana penting, seperti : Stasiun RRI, Pusat Telekomunikasi, dan Bandara Halim Perdana Kusumah.
5. Menculik dan membunuh para Jenderal dari AD.


§ Tahap usaha AD menghadapi usaha PKI :
1. Mengingatkan pemerintah tentang tindak-tanduk kegiatan PKI.
2. Menolak terbentuknya angkatan ke-5.
3. Menyampaikan kepada pemerintah bahwa yang dibentuk AD bukan Cup Dewan Jenderal tetapi Wanjakti (Dewan Jabatan Kepangkatan Tinggi).
4. Menjaga dan mengamankan pemerintah dari situasi politik PKI.


-30september 1965 : PKI menyusun kekuatan dengan mempersiapkan pasukan-pasukannya di daerah Lubang Buaya.
- 01 Oktober 1965 : Pasukan PKI mengadakan penculikan para Jenderal.
- 02 Oktober 1965 : Pemerintah mengadakan operasi militer dengan menurunkan pasukan kostrad di bawah Meyjen Soeharto.


§ Para Jenderal yang terbunuh dalam peristiwa G30S/PKI :
1. Jenderal Ahmad Yani
2. Jenderal S. Parman
3. Jenderal R. Suprapto
4. Jenderal M. T Haryono
5. Jenderal D. I Panjaitan
6. Jenderal Sutoyo Siswomiharjo




Menjelaskan pendapat tentang strategi 30S/PKI
Secara historis, metode dalam pola-pola gerakan Komunisme di Indonesia mengalami kontinuitas yang menunjukkan konsistensi, terutama taktik infiltrasi (penyusupan) dan strategi ‘penyesuaian’ terhadap lingkungan yang dihadapi sebagai jembatan dalam mencapai tujuan akhirnya, yaitu menciptakan masyarakat Komunis sesuai ajaran Marxisme Leninisme. Sejarah Komunisme di Indonesia menunjukkan adanya konsistensi pola-pola infiltrasi dengan mengambil peran-peran di setiap momen dalam berbagai bentuk. Strategi ini tidak terlepas dari pernyataan Lenin bahwa “Revolusi tidak harus dilakukan oleh Partai Komunis, tetapi kemenangan akhir harus berada di tangan Partai Komunis” dengan melaksanakan pola pemanfaatan organisasi, kelompok, individu sebagai obyek infiltrasi. Konsep ini berkembang menjadi doktrin yang dijadikan secara konsisten sejak awal terbentuknya PKI pada tahun 1920 hingga terjadinya pemberontakan G. 30 S/PKI 1965.
Seperti pada tahun 1920, kelahiran PKI merupakan proses yang tidak terlepas dari penggunaan cara-cara infiltrasi yang dikenalkan oleh Lenin sebagai metode dalam upaya menyebarkan Komunisme Internasional ke seluruh dunia dengan mengimplementasikan taktik Block Within/Blok Dalam. Metode ini digunakan tokoh-tokoh Komunisme Belanda, yakni H.J.F.M Sneevliet, dkk. melalui ISDV (Indische Sociaal Demochratische Vereniging) guna melebarkan sayapnya dengan cara penyusupan sebagai usaha mengembangkan pengaruh idiologinya ke berbagai organisasi pergerakan nasional.
Pasca kongresnya pada 1923, PKI yang telah berkembang dengan cepat memutuskan untuk terus menggerakkan penyusupan ke tubuh SI (Serikat Islam) yang memiliki anggota besar. Selanjutnya, PKI mendirikan Barisan Pemuda dengan memperhatikan partisipasi wanita untuk memudahkan pengendalian SI Merah yang telah terkontaminasi ideologi kiri dengan mengganti nama SR (Sarekat Rakyat) yang kemudian dilebur ke dalam organisasi PK (Partai Komunis) pada tahun 1924. Kebesaran kekuatan PKI tidak berlangsung lama karena Pemerintah Hindia Belanda melarang setelah partai ini melakukan pemberontakan pada 1926 (Ruth T. Mc. Vey, 2010).Tindakan ini berdampak pada organisasi-organisasi pergerakan Boemi Poetra yang harus mengalami tindakan represif dari pemerintah kolonial Hindia Belanda. Banyak para pimpinan pergerakan, seperti Moh. Hatta, Soetan Syahrir ditangkap oleh pemerintah kolonial (G. Ambar Wulan, 2009). Sedangkan beberapa pimpinan PKI, antara lain Muso dan Alimin melarikan diri ke Moscow.


Kepulangan Muso dari Moscow bulan Agustus 1948 yang membawa misi Komintern baru, yakni garis keras Zhadanov meradikalkan dan menempatkannya sebagai pimpinan anggota-anggota khusus PKI. Dalam waktu cepat Muso berhasil menjadikan PKI sebagai partai besar dengan kekuatan terletak pada kaum buruh dan Pesindo (Pemuda Sosialis Indonesia) sebagai kekuatan bersenjata FDR (Front Demokrasi Rakyat) yang telah dibina Amir Syarifuddin sejak ia menjabat sebagai menteri pertahanan dan kemudian perdana menteri. Penggalangan PKI melalui Front Nasional menjadi alternatif strategis PKI karena peluang untuk memperoleh kekuatan melalui jalur parlemen tidak memungkinkan lagi. Dengan dalih menghadapi ancaman serangan militer Belanda, PKI menyerukan untuk melakukan pertahanan rakyat, seperti penggelaran Brigade ke-29 TNI yang berhasil disusupi PKI dan sebagian besar anggotanya berasal Pesindo untuk melakukan perebutan daerah-daerah pedesaan tanpa bertempur. Pada 18 September 1948, PKI memukul perjuangan RI dari belakang dengan melakukan pemberontakan dan memproklamirkan berdirinya Republik Sovyet di Madiun. Presiden Soekarno menyebutnya sebagai tindakan awal PKI di bawah Muso untuk merebut kekuasaan seluruh pemerintah RI. Sikap tegas pemerintah, yakni menumpas PKI beserta organisasi-organisasi pendukungnya (Pusjarah TNI, 2009).
Kegagalan pemberontakan PKI ini mendorong dilakukan pembaharuan kebijakan PKI selanjutnya di bawah pimpinan D.N. Aidit yang baru tiba di Indonesia dari pelariannya ke luar negeri. Dalam hal ini D.N. Aidit melakukan revisi kebijakannya dengan menghindari ‘perang terbuka’ (open rebellion) seperti yang dilakukan Muso di Madiun. Hal tersebut didasarkan pada posisi PKI belum menjadi king marker, oleh karena itu Aidit kemudian membangun sebuah front nasional melalui kerjasama antar berbagai partai politik dan unsur-unsur masyarakat lainnya dengan tetap mempertahankan independen PKI, baik secara politis, idiologis maupun organisatoris. Di samping itu, buruh dan tani menjadi basis kekuatan yang hendak digunakan untuk mencapai tujuan-tujuan PKI secara lebih efektif.
Bagi PKI, kompromi dengan menyesuaikan ideologi Marxisme-Leninisme dengan situasi di Indonesia merupakan taktik jangka pendek yang dilakukan hingga saatnya PKI mampu mengumpulkan kekuatan dan pengaruh yang memadai. Hal ini menjadi pijakan PKI dalam menentukan bentuk kebijakan, taktik perjuangan, dan bentuk organisasi partai. Dalam Kongres Nasional ke-V PKI pada 1954, Aidit menyatakan tekadnya untuk “meng-indonesiakan Marxisme-Leninisme” dan menempuh taktik komunis klasik, yaitu Front Persatuan Nasional. Artinya, PKI bekerjasama dengan golongan-golongan Non-Komunis dan bersedia mendukung pemerintah sekalipun dianggap borjuasi nasional. Taktik ini sejalan dengan pendekatan yang dilakukan Uni Soviet dan RRC terhadap negara-negara baru merdeka di Asia (termasuk Indonesia) dalam rangka global strategygerakan Komunis Internasional (Pusjarah TNI, 2009).Dalam melaksanakan program perjuangan partai yang dihasilkan kongres tersebut, pada tahun 1955 dirumuskan strategi PKI yang disebut MKTBP (Metode Kombinasi Tiga Bentuk Perjuangan), yakni: Pertama, perjuangan gerilya oleh massa petani di pedesaan. Kedua, perjuangan revolusioner oleh kaum buruh di perkotaan, terutama oleh kaum buruh transport. Ketiga, bekerja intensif dikalangan kekuatan bersenjata musuh. Dengan MKTBP, PKI melakukan persiapan bagi pelancaran revolusi sosial. Dalam mengimplementasikan MKTBP, PKI melaksanakan infiltrasi secara intensif di kalangan militer-polisi. Pelaksanaan bekerja di kalangan bersenjata ini dilakukan sangat rahasia sehingga kader-kader di tingkat CC (Comite Central) PKI pun tidak semua mengetahuinya. Sesuai derajat kerahasiaannya, Sidang Politbiro PKI mendelegasikan wewenang secara absolut kepada ketua CC PKI terpilih, yaitu D.N. Aidit.

Menganalisis dampak dari peristiwa gerakan 30S/PKI


Peristiwa G30S/PKI 1965 yang terjadi di Indonesia telah memberi dampak negatif dalam kehidupan sosial dan politik masyarakat Indonesia yaitu,
1. Dampak Politik

a. Presiden Soekarno kehilangan kewibawaan di mata rakyat Indonesia.

b. Kondisi politik Indonesia semakin tidak stabil sebab muncul pertentangan dalam lembaga tinggi negara.

c. Sikap pemerintah yang belum dapat mengambil keputusan untuk membubarkan PKI sehingga menimbulkan kemarahan rakyat.

d. Munculnya aksi demonstrasi secara besar-besaran yang dilakukan rakyat beserta mahasiswa yang tergabung dalam KAMI, KAPPI, dan KAPI menuntut pembubaran terhadap PKI beserta ormas-ormasnya. Tuntutan mereka dikenal dengan istilah tritura atau tiga tuntutan rakyat, yaitu

1) Pembubaran PKI.
2) Pembersihan kabinet Dwikora dari unsur- unsur PKI.
3) Penurunan harga-harga barang.

e. Pemerintah mengadakan reshuffle (pembaharuan) terhadap Kabinet Dwikora menjadi Kabinet Dwikora yang disempurnakan dengan ditujuknya kabinet yang anggotanya seratus menteri sehingga dikenal dengan Kabinet Seratus Menteri. Akan tetapi, pembentukan kabinet tersebut ditentang oleh KAMI dan rakyat banyak sebab dalam kabinet tersebut masih diambil menteri-menteri yang pro-PKI atau mendukung PKI sehingga mereka melakukan aksi ke jalan dengan mengempeskan ban-ban mobil para calon menteri yang akan dilantik. Aksi tersebut menewaskan seorang mahasiswa yang bernama Arif Rahman Hakim. Kematian Arif Rahman Hakim tersebut memengaruhi munculnya aksi demonstrasi yang lebih besar yang dilakukan mahasiswa dari para pemuda Indonesia di Jakarta maupun di daerah-daerah lainnya.

f. Pada tanggal 25 Februari 1966, Presiden Soekarno membubarkan KAMI sebab dianggap telah menjadi pemicu munculnya aksi demonstrasi dan turun ke jalan yang dilakukan oleh para pemuda.

g. Pada tanggal 11 Maret 1966, diselenggarakan sidang kabinet yang ingin membahas kemelut politik nasional. Namun sidang itu tidak dapat diselesaikan dengan baik karena adanya pasukan tak dikenal yang ada di luar gedung yang dianggap membahayakan keselamatan Presiden Soekarno.

2. Dampak ekonomi

Di bidang ekonomi, peristiwa G30S/PKI telah menyebabkan akibat yang berupa inflasi yang tinggi yang diikuti oleh kenaikan harga barang-barang, bahkan melebihi 600% setahun. Untuk mengatasi masalah tersebut, pemerintah mengeluarkan dua kebijakan ekonomi.

a. Mengadakan devaluasi rupiah lama menjadi rupiah baru yaitu dari Rp. 1000 menjadi Rp. 100.

b. Menaikkan harga bahan bakar menjadi empat kali lipat tetapi kebijakan ini menyebabkan kenaikan harga yang sulit untuk dikendalikan.