Guru Inovatif Siswa Kreatif

Guru Inovatif Siswa Kreatif

Total Tayangan Halaman

22 Maret 2017

Fenomenal Makna Skral, Pengendali Sosial dan Profan dalam Ritual Peusijuek Bagi Masyarakat Aceh “Generasi Muda” by Ridwan, MA


Sebuah Kajian Refleksi dan Promosi Budaya by Ridwan, MA
Abstrak
Masyarakat Aceh Sermabi Mekkah dalam aktifitas hidup kental dengan tatanan adat budaya dan agama. Salah satu ritual paling urgen adalah peusijuek sehinga hapir semua kegiatan adat dilakukan ritual ini. Tulisan ini bertujuan untuk mendeskripsikan makna ritual peusijuek sebagai media komunikasi transendental dan simbol kekuatan dalam masyarakat Aceh  Metode penelitian menggunakan pendekatan fenomenologis (Creswell, 2009). Informan adalah masyarakat Aceh, sesepuh adat, dan remaja (18-25 tahun). Lokasi penelitian dilakukan di Kabupaten Aceh Jaya. Pengumpulan data dengan pengamatan dan pengamatan terlibat, wawancara dan wawancara mendalam mencari data partisipan dalam menginterpretasikan situasi dan fenomena mengenai komunikasi transcendental dan kekuatan simbolik dalam ritual pusijuek. Observasi terlibat digunakan untuk mengamati periaku dan aktifitas informan serta ikut merasakan. Analisis data dengan teknik mereduksi data, penyajian data, penarikan kesimpulan dan verifikasi (Miles dan Huberman, 1994). Hasil penelitian ini menemukan; (1) Makna ritual peusijuk bagi masyarakat Aceh “generasi muda” peusijuek sebagai tanda syukur dan peusijuek sebagai tanda sabar menghadapi musibah. (2) Transpormasi ritual peusijuk diera globalisasi terjadi pada penyelenggaraan ritual, makna penting ritual peusijuek, dan eksistensinya bagi generasi muda. Simpulan (1) pemaknaan fungsi peusijuek sebagai tanda syukur dikaji dari momen ritual dilakukan; peusijuek usaha baru, menempati  rumah baru, baru memiliki kedaraan baru, mulai membangun rumah baru, dll. Dimaknai fungsi ritual peusijuk sebagai: (1) rasa syukur, (2) berbagi kebahagiaan, dan (3) memperkokok keberhasilan. Pemaknaan peusijuek dari momen musibah dimaknai dari penyebab seperti; peusijuek karena peristiwa kecelakaan, patah tulang, luka yang banyak mengeluarkan darah, karena adanya perselisihan warga, dll. Dimaknai fungsi peusijuek sebagai bahagian dari: (1) mebangun percaya diri, (2) memperkuat persaudaraan, dan (3) membangun kepedulian dalam kehidupan bermasyarakat

Kata kunci: ritual peusijuek Aceh, komunikasi transendental, kekuatan simbolik,

A.    Pendahuluan
Indonesia memiliki bergam adat suku budaya, setiap suku memiliki jenis adat ritual kelahiran, perkawinan, kematian, penguburan, pemujaan, dan pengukuhan kepala suku. Ritual ini mengandung makna dan fungsi berbeda-beda. Dilihat dari aspek kualitas hidup masyarakat tradisional Indonesia salah satu ritual yang memegang peran penting dalam kehidupan adalah ritual syukuran dalam bentuk ungkapan rasa terima kasih kepada Tuhan. Ritual syukuran dilakukan diberbagai daerah dengan nama dan cara yang berbeda-beda, antara lain: Ritual slamatan dilakukan oleh masyarakat Jawa, Sunda dan Madura. Selamatan berupa bentuk ritual syukuran dengan mengundang beberapa kerabat atau tetangga, secara tradisional slamatan dilakukan dengan doa bersama melingkari nasi “tumpeng” dengan lauk pauknya. Ritual Sekaten dari Yogyakarta tanda syukur pada bulan mulud (rabi’ul awal). Ritual Tabuik dari Sumatra Barat tanda syukur dilakukan pada hari asyura (sepuluh Muharram). Ritual Kebo-keboan dari Irian tanda syukur untuk mendatangkan hujan dan memberi hasil pertanian berlimpah. Ritual Mapasilaga Tedong dari tanah Toraja Sulawesi tanda syukur dengan penyembelihan kerbau albino dari hasil aduan. Ritual Pasola dari Sumbawa Nusa Tenggara Barat tanda syukur terhadap lancarnya hasil panen yang akan di nikmati. Ritual Peusijuek dari Aceh tanda syukur dilakukan pada hampir semua kegiatan adat dalam kehidupan.
Aceh dikenal daerah Serambi Mekkah yang kental riligius, berbagai aktifitas penduduk turut diwarnai oleh budaya Islami. Daerah ini merupakan satu-stunya provinsi di Indonesia yang memberlakukan syari’at Islam. Adat budaya dan tradisi mengikat kuat struktur sosial masyarakat, diantara tradisi memegang peran penting dalam masyarakat Aceh pada umnya ditandai dengan makan bersama, seperti adat melaut “kenduri laot” adat bersawah “kenduru blang” adat panen musim buah-buahan “kenduri boh kayee” adat megang pesta makan daging “kenduri makmegang” dan adat slamatan “peusijuek”.
Peusijuek memilki fungsi dan peran penting dalam kehidupan masyarakat, ritual ini menjadi tradisi turun-temurun dilaksanakan secara teratur dalam bentuk aktivitas permohonan sebagai ungkapan rasa terima kasih. Ritual peusijuek merupakan perwujudan dari sistem kepercayaan masyarakat Aceh memiliki nilai-nilai universal, bernilai sakral, suci, dan religius. Unsur dalam ritual adat ini meliputi: Tempat upacara, waktu pelaksanaan, bahan material/peralatan dan pelaku upacara yang meliputi pemimpin dan peserta upacara. Eksistensi ritual peusijuek sangat kuat mengendalikan masyarakat. Terlihat dari pelaksanaan dalam masyarakat dilakukan berbagai momen bahagia dan duka. Dalam momen bahagia peusijuek dilakukan ketika memulai sebuah usaha, menempati rumah baru, merayakan kelulusan, peresmian pengantin baru, kembalinya keluarga dari perantauan, qurban, khitanan, memberangkatkan dan menyambut kedatangan haji, Dalam momen musibah peusjuek dilakukan ketika terlepas atau selesai dari musibah kecelakaan, patah tulang, luka yang mengeluarkan banyak darah, wanita baru diceraikan suami, dan baru menyelesaikan persengketaan. Bahkan secara kasatmata terlihat peusijuek juga dilakukan pada hal-hal biasa ketika membeli kendaraan baru, mulai menyemai bibit padi, memjulai panen padi, dan terkejut dengan binatang buas.
Ritual Peusijuek selain fungsi syukur secara interpersonal riligius juga memiliki fungsi sosial, karena peusijuek menjadi media penyeimbang hubungan manusia dengan manusia, hubungan manusia dangan alam dan hubungan manusia dengan Tuhan. Ritual ini memupuk rasa kebersamaan, penguatan motivasi, pembangkit rasa percaya diri. Oleh karena itu, fokus tulisan ini ritual peusijuek sebagai media komunikasi transendental dan kekuatan simbolik yang menarik dikaji di Aceh. Peusijuek dikenal di nusantara “tepung tawar”. Hampir semua daerah berbudaya Melayu umumnya mengetahui tentang adat tepung tawar, hanya sedikit berbeda antar daerah satu dengan daerah lainnya, baik menyangkut tata cara pelaksanaan, perlengkapan yang digunakan maupun fungsinya
Berbagai studi tentang ritual adat telah dilakukan oleh beberapa ahli ditinjau dari aspek utama: (1) ritual adat sebagai media komunikasi transcendental, (2) ritual adat sebgai kekuatan simbolik dalam masyarakat. Pertama studi ritual adat dari aspek komunikasi transcendental adanya studi komunikasi transcendental dalam ritual adat tentang transendental morfologi sebuah interpretasi fenomenologis dari cosmos manusia dan non-manusia, studi ini menegaskan "secred" dan "profan" dua fundamenatal berbeda. Eliade disebut sebagai manusia kuno manusia sebagai "kosmos", sebagai perintah yang terbentuk dari hal-hal secreed dan profan. ditinjukkan bagaimana tiga konsepsi ini bertepatan dengan satu sama lain, membentuk struktur phenomenologi tunggal yang koheren. Aku akan memanggil metode dimana kita menyelidiki hukum ideal (Mrosan, 2014). Studi komunikasi, ideologi dan masalah 'perbudakan sukarela', studi ini menggunakan media komunikasi untuk lebih memahami isu-isu yang luas dan kekuatan simbolik. Peran kota sebagai bagian dari komunitas menawarkan alasan untuk menjelaskan mengapa "tradisi diciptakan" ditawarkan sebagai mekanisme untuk memahami munculnya simbole-simbol idiologi dalam teknologi komunikasi dan perubahan juga telah terjadi dalam politik dan komersial (Kiane, 1982), cita rasa dan langka sumber komunikasi sistem dari “Kung” dan pengumpul lainnya (Biesele, 1978). Studi senada focus rituals, invented tradisi, dan pergeseran kekuatan (Trumpbour, 2007), keyakinan dan ritual tradisional: Praktek kelahiran Attendant di Guatemala (Walsh, 2006), berlatih Qi dan memakan Ki  Folk epistemologi dan konsumsi ritual di Jepang (Minowa, 2012), I sland identitas ritual: Wisata dan penciptaan selisih Neolitik Malta (Robb, 2001), dan ritual adat ditegaskan dari sifat dan fungsi ritual dalam diskusi sosiologis (Bird, 1980),
Studi ritual indentik dengan model antropologi interaksi budaya dan studi proses keagamaan (Chakabarti, 1992), senada dengan berteori agama dan media yang dalam masyarakat kontemporer (Herbert, 2011), dan agama sebagai dominan unsur superstruktur antara Pare Tanzania (Lebulu, 1979). Studi lainnya mengkaji identifikasi wilayah vernakular penyelesaian Cigugur melalui Praktek Seren Taun Ritual di Kuningan, Jawa Barat (Adisaputri, 2015). Studi di Africana eksistensial ontologi Rum sebagai metafora kehidupan (Hedley, 2013), transnasionalisme dan New Religio-politik (Stolow, 2004), politik ritual aspek dari mao cult selama budaya revolusi (Aijmer, 1996)
Ritual adat sebgai kekuatan simbolik dalam masyarakat dapat dilihat dari studi mengapa ritual penggunaan tanaman memiliki relevansi ethnopharmacologi (Quiroz, D, Sosef, M dan Andel, TV, 2016), simbolis, ritual dan sosial dinamika penyembuhan spiritual (Glik, 1988), kelompok ritual dan bekerja relasional (Kadar dan Bax, 2013), mitos dan batu venesia: Geografi sejarah dari simbolik lanskip (Cosgrove, 1982), arti penting dari tangan kanan dan sisi kanan dalam Weda Ritual (Gonda, 1972), ritual sebagai bahasa (Lawson, 1976), play dari semiotik dan simbolik  the authenticity of kehidupan Ibu Maria Skobtsova (Bauerova, 2014), ritual dan simbolik “Daya” di Rousseau Konstitusi (Daly, 2013) dan simbolis kekuatan media yang transnasional (Chaoliaraki, 2008).
Eksistensi tradisi peusijuek dalam masyarakat era globalisasi masih umum diikuti oleh keseluruhan masyarakat mulai dari bayi, generasi muda  sampai masyarakat lansia. Makna penting bagi transpormasi peusijuek diera global dapat dicermati dari sisi sosial budaya sedikit memudar, dulunya ritual peusijuek menjadi kebanggaan masyarakat, seluruh momen penting dilakukan selalu mengikut sertakan peusijuek. pelaku ritual dipandang sebagai keluarga mematuhi adat. Sedangkan sekarang dianggap sebagai hal biasa, bahkan ada momen dulunya dipeusijuek sekarang tidak dipeusijuek. Perubahan lain dapat dilihat dari sisi sudut pandangan masyarakat terhadap ritual peusijuek. Banyak masyarakat saat ini tidak lagi memandang ritual peusijuek sebagai sakral, tetapi hanya sebatas profan, bakan beberapa momen yang dulunya dipeusijuek sekrang tidak dipeusijuek, seperti peusijuek membangun rumah, peusijuek bibit padi dan peusijuek penen padi. Pergeseran ini terjadi mulai dari pasca konflik dan tsunami, akibat persinggungan budaya global dengan budaya lokal. Peusijuek pembangunan rumah tidak dilakukan lagi karena perumahan warga dibangun oleh NGO. Peusjuek bibit padi dan panen padi di beberapa tempat telah beralih fungsi lahan.
Berbagai penelitian yang telah dilakukan ahli di atas belum mampu menjelaskan secara komprehensif gambaran tentang fenomenologi ritual peusijuek sebagai media komunikasi transendental dan kekuatan simbolik dalam masyarakat Aceh “generasi muda”. Padahal studi adat budaya sangat urgen di kaji dari fenomenologi. Ada dua fokus besar  dalam tulisan ini: (1) makna ritual peusijuk bagi masyarakat Aceh “generasi muda” dan (2) Transpormasi ritual peusijuk diera globalisasi. Makna ritual peusijuek dikupas dari dua aspek: (a) Peusijuek sebagai tanda syukur dan (b) peusijuek menghadapi musibah. Sedangkan fokus transpormasi peusijuek diera globalisasi dibahas dari tiga aspek yaitu: (a) ditinjau dari penyelenggaraan (b) makna penting ritual peusijuek, dan (c) eksistensinya bagi generasi muda. Pemaknaan fungsi peusijuek sebagai tanda syukur dikaji dari momen ritual yang dilakukan; Peusijuek memulai usaha baru, menempati  rumah baru, baru memiliki kedaraan baru, mulai membangun rumah baru, dll. Dimaknai fungsi ritual peusijuk sebagai: (1) rasa syukur, (2) berbagi kebahagiaan, dan (3) memperkokok keberhasilan. Senada dengan peusijuek musibah dimaknai ari penyebab seperti; peusijuek karena peristiwa kecelakaan, patah tulang, luka yang banyak mengeluarkan darah, karena adanya perselisihan warga, dll. Dimaknai fungsi peusijuek sebagai bahagian dari: (1) mebangun percaya diri, (2) memperkuat persaudaraan, dan (3) membangun kepedulian dalam kehidupan bermasyarakat.
 
B.    Metode
Tulisan ini menggunakan pendekatan fenomenologis (Creswell, 2009). Informan dalam tulisan ini adalah masyarakat Aceh, sesepuh adat, dan remaja. Lokasi penelitian ini dilakukan di Kabupaten Aceh Jaya (sebuah kabupaten di bahagian Barat Provinsi Aceh ± 150 km dari Banda Aceh ibukota Provinsi). Pengumpulan data dengan pengamatan dan pengamatan terlibat, wawancara dan wawancara mendalam mencari data partisipan dalam menginterpretasikan situasi dan fenomena mengenai komunikasi transcendental dan kekuatan simbolik dalam ritual pusijuek. Observasi terlibat digunakan untuk mengamati periaku dan aktifitas informan serta ikut merasakan. Analisis data dengan teknik mereduksi data, penyajian data, penarikan kesimpulan dan verifikasi (Miles dan Huberman, 1994).

C.    Pembahasan
Ritual peusijuek berfugsi sebagai bentuk rasa syukur dan sebagai penolak bala. Wujud syukur masyarakat Aceh ketika mengalami keberuntungan melakukan ritual ini. Sedangkan bentuk penolak bala masyarakat mengalami musibah dipeusijuek oleh tetangga dan kaum kerabatnya. Ada dua perbedaan tekni yang mendasar diantara kedua jenis peusijuek ini: (1) Peusijuek tanda syukur, mengundang kaum kerabat dan tetangga, menjamu makan bersama dan membagikan amplop sumbangan kepada tamu terutama bagi anak yatim dan fakir miskin. (2) peusijuek musibah, kaum kerabat dan tetangga berdatangan tanpa diundang membawa bahan ritual beserta sesepuh pemimpin ritual mempeusijuek keluarga musibah dan diakhiri dengan memberi sumbangan berupa uang kepada keluarga musibah. Melihat arti pentingnya ritual peusijuek bagi kehidupan, maka pemaknaan kekuatan simbolik dan pesan-pesan tertentu yang selalu dikomunikasikan melalui ritual ini menjadi penting dan menarik untuk dikaji. Tradisi ini merupakan bentuk komunikasi transendental yang telah ada sejak zaman Hindu Budha dan masih terpelihara sampai sekarang.

1.    Pemaknaan Fungsi Ritual Peusijuek Bagi Masyarakat Aceh “Generasi Muda”
Pada tingkat masyarakat biasa, peusijuek hanya merupakan kegiatan rutinitas adat biasa walau diyakini mesti dilaksakan. Biasanya prosesi peusijuek dilakukan oleh sesepuh yang dianggap  memahami tujuan dan doa-doa dibacakan pada peusijuek. sedangkan pada tataran filosofi ritual ini mensinergikan komunikasi transendental dalam semua sisi komunikasi yang muncul dalam ritual seperti senyuman, lambaian tangan, kerlingan mata, dan kening yang berkerut pada dasarnya adalah komunikasi. Katagorisasi komunikasi transendental yang dikaji lebih dalam mencakup lima unsur, yaitu: (1) siapa yang menyampaikan (sumber/komunikator), (2) apa yang disampaikan (pesan), (3) melalui saluran apa (media), (4) kepada siapa (komunikan), dan (5) apa pengaruhnya (efek) (Padje, 2008).
Melihat ritual peusijuek dalam perspektif komunikasi transendental yang dimaksud dalam tulisana ini adalah sinergi lima unsur komunikasi dapat dilihat dari sumber atau komunikator adalah Tuhan dan manusia (pemimpin ritual) berperan sebagai penyampaikan pesan secara langsung kepada Tuhan. Unsur pesan yang disampaikan adalah berupa doa sesuai momen yang diucapkan. Tulisan ini memaknai peusijuek dalam perspektif masayarat Aceh “generasi mauda” dari dua aspek besar, yaitu: (1) fungsi syukur dalam ritual peusijuek, (2) funfgsi peusijuk sebagai penolak bala.
a. Fungsi Syukur dalam Ritual Peusijuek
Fungsi ritual peusijuek dimaknai sebagai bentuk syukur dalam perspektif masayarat Aceh “generasi mauda” dari dua bentuk dasar, yaitu: (1) pusijuek sebagai ungkapan rasa syukur, (2) funfgsi peusijuk sebagai penolak bala, dan (2) peusijuk sebagai media berbagi kebahagiaan dalam kehidupan bermasyarakat

1)    Pusijuek Sebagai Ungkapan Rasa Syukur
Peusijuk bermakna tanda syukur ini dilakukan untuk memperoleh keberkahan dari anugerah rahmat yang dimiliki. “…jika bersyukur maka akan mendapatkan rahmat berlimpah, jika ingkar nikmat maka azab melarat akan tiba…” Nujad (62 tahun). Jika dicermati ada dua hal penting dari tuturan Nujad: (1) bersyukur bertambah makmur, (2) tidak bersyukur akan melarat. Dua poin ini diyakini betul oleh masyarakat Aceh terlihat dari baru membeli kendaraan langsung peusijuek sebelum digunakan, kalau tidak jika mengalami kecelakan langsung dikaitkan karena tidak peusijuek. Ritual ini bermakna mendinginkan (menetralisir) dengan harapan baik menjadi berkah dari apa yang dimiliki diyakini betul pemberian Tuhan. Ritual ini menjadi penting bagi masyarakat Aceh sebagai ungkapan terima kasih dan rasa syukur kepada Tuhan karena telah mendapatkan suatu rahmat supaya tidak sombong dan takabur. Selalu terlindung dari segala kesusahan dan rintangan menimpanya. Adat ini masih dipertahankan dan diamalkan menjadi amalan sakral harus dilakukan menurut kepercayaan masyarakat setempat supaya mendapatkan kemakmuran diikuti dengan mendapatkan keselamatan dan perlindungan dari Tuhan.

2)    Peusijuk Sebagai Media berbagi kebahagiaan
Dalam menghadapi zaman globalisasi saat ini, budaya dan adat masyarakat Aceh juga mengalami perubahan dan pergeseran makna menyesuaikan dengan kondisi zaman. Oleh karena itu, mempertahankan budaya peusijuek dan nilai-nilai berbagi di dalamnya sangat diperlukan. meskipun masyarakat telah berubah sesuai dengan zamannya, namun nilai berbagi masih perlu dipertahankan. “… peusijuek rumah baru, tempat usaha baru, dan peusijuek pejabat publik baru selalu diikuti dengan makan bersama dan berbagi sedekah…” Muslim (65 tahun). Tuturan ini mensyaratkan poin penting berbagi kebahagiaan untuk mendapatkan keberkahan rejeki dan menyejukkan hati. Hal ini menjadi patrol pedoman mencari rejeki dengan mengutamakan keberkahan dan ridha Tuhan bukan berorientasi pada bagaimana caranya yang penting mendapatkan.

b.  Peusijuek Sebagai Penolak Bala
Perjalan hidup membawa manusia pada kondisi kebahagiaan atau kesusahan. Hal utama paling penting adalah bagaimana menyikapi hidup sehat atau sakit. Semua makhluk hidup pada dasarnya bermula dari kondisi netral. Oleh sebag itu, ketika menghadapi kesengsaraan, sakit dan dapat musibah mesti dikembalikan terlebih dahulu kepada kondisi semula (netralitas). Selanjutnya beralih ke kondisi sehat masyarakat Aceh mengenal ritual peusijuek karena ditimpa musiabah mendo’akan kebahagiaan dan memulai aktifitas positif yang baru dengan penuh waspada dan berhati-hati. Peusijuek seperti ini disebut sebagai penolak bala, peusijuek jenis ini dimakanai; (1) mebangun kepercayaan diri, (2) memperkuat persaudaraan, dan (3) membangun kepedulian dalam kehidupan bermasyarakat.

1)       Peusijuek Musibah Mebangun Kepercayaan Diri
Pada dasarnya memperoleh kehidupan lebih baik, sehat dan jauh dari bala bencana sesungguhnya bukan hanya datang dari pengaruh luar diri manusia “makro kosmos”, melainkan telah ada dalam diri manusia itu sendiri berupa “semangat”. Sebagaimana dituturkan Hamid (21 tahun) “… saya mengalami patah tulang pada saat bermain bola, ketika teman-teman saya datang membawa sesepuh dan peusijuek saya menjadi lebih percaya diri dan bersemangat, meskipun tidak bisa bermain bola saya selalu ikut menonton teman-teman latihan..”. Tuturan Hamid dapat dicermati bebrapa hal penting (1) peusijuek membangkitkan kepercayaan diri, (2) “semangat” menjadi lebih matang setelah ritual peusijuek, (3) peusijuek membawa dampak tenang bagi keluarga musibah.
Pesijuek membangkitkan kepercayaan diri menjadi kunci semangat sebagai awal dari segala daya dan upaya untuk membentuk diri menjadi lebih baik. Menangkal diri dari segala macam pengaruh yang tidak baik dari luar. Percaya diri yang kuat dan tak pernah lemah disimbolkan dengan besi dalong dalam prosesi ritual tersebut, meskipun mengahadapi berbagai cobaan tetap kuat dan sabar menghadapi dengan penuh semangat tanpa kenal lelah dan putus asa. Lelah usaha menjadi bahagian tugas manusia mebangunnya dengan percaya diri dari dalam diri dan dukungan lingkungan. Sedangkan asa tidak boleh terputus di bumi tetapi ia digantung harapan pada tuhan untuk harapan lebih baik terinterpretasi dalam komunikasi yang paling utama dari prosesi ritual peusijuek.

2)       Peusijuek Musibah Memperkuat Persaudaraan
Peusijuek musibah dapat memperkuat persaudaraan sebagai wujud silaturrahmi dan saling peduli antar warga, kaum kerabat dan tetangga. “... peusijuek musibah atau patah tulang, perselisihan antar warga, dan rujukan suami isteri pasca bercerai untuk mendamaikan dan mengharap keselamatan dari musibah…” (Hasan, 67 tahun). Beberapa hal penting dapat dianalisis dari tuturan Hasan yaitu: (1) do’a yang disampaikan menyejukkan hati, mendamaikan dan menenangkan hati yang di peusijuek. Kemudian komunikasi ini membawa pegaruh ketenangan batin bagi masyarakat ditimpa musibah. Selanjutnya menjadi media pengendali sosial, perekat keakraban dan silaturrahmi antar keluarga peusijuek dengan keluarga yang di peusijuek.
 
2.    Transpormasi Makna Ritual Peusijuek Bagi Masyarakat Aceh “Generasi Muda”
Transpormasi makna ritual peusijuek bagi masyarakat Aceh “generasi muda” dibahas dari tiga aspek kajian yaitu: (1) transpormasi makna peusijuek ditinjau dari penyelenggaraannya, (2) Transpormasi makna penting ritual peusijuek bagi masyarakat Aceh, dan (3) eksistensi ritual peusjuk bagi generasi muda.

a.       Transpormasi Makna Peusijuek Ditinjau dari Penyelenggaraannya
Dalam penyelenggaraan peusijuek terdapat empat unsur penting dalam ritual: (1) bahan material berupa; dedaunan, rerumputan, padi, tepung, air, nasi ketan dan tumpoe. (2) doa dibacakan menurut momen rtual peusijuek, (3) gerakan dilakukan pada saat dipeusijuek, dan (4) “teumutuek” (pemberian uang). Prosesi ritual ini dikaji dari transpormasi makna ritual peusijuek bagi masyarakat Aceh “generasi muda” dilihat dari dua aspek tinjauan: (1) makna prosesi ritual zaman dulu dan (2) Makna prosesi peusijuek di era globalisasi.

1)    Makna Prosesi Ritual Peusijuek Zaman Dulu
Makna prosesi ritual peusijuk zaman dahulu merupakan ritual mengandung nilai filosofis dan sacral. Pelaksanaan ritual ini sarat dengan aturan yang serius; “…tidak boleh berbicara dan tertawa saat upacara, diwajibkan berjilbab bagi wanita dan berpeci bagi laki-laki duduk bersila. Mula-mula membaca basmalah, meminta kepada Allah supaya mendapat rahmat berlimpah, menabur beras padi sambil berniat sesuai momen, menyunting dengan nasi ketan dicematkan di telinga kanan, memercik air tepung tawar…”. (Amiruddin 69 tahun). Prosesi ritual peusijuek dicermati dari tuturan Amiruddin posisi dan fungsinya bagi masyarakat sebagai sebuah ritual sacral dalam adat budaya dan telah menjadi bahagian dari agama bagi masyarakat Aceh. Sedangkan fungsi ritual ini sebagai ritual permohonan keselamatan, keberkahan dan kemakmuran. Dijalankan ketika masyarakat menghadapi momen-momen tertentu dilakukan oleh para ustadz dan ustadzah yang dianggap paham makna ritual.

2)    Makna Prosesi Ritual Peusijuek di Era Globalisasi
Makna prosesi ritual peusijuek mengalami sedikit bergeser bagi generasi muda dulu sebagai upacara sacral sekarang menjadi ritual profane. Para generasi muda dalam masyarakat tradisional pada umumnya tidak memahami makna mendalam tetapi keikut sertaannya lebih cenderung ikut-ikutan dan tidak ingin dipandang sebagi anak yang tidak taat adat. “… peusijuek merupakan upacara adat yang resmi, sehingga dilakukan pada momen-momen yang resmi dalam adat …” (Syahrol 21 tahun). Senada dengan ungkapan “… peusijuek bola kaki dan lapangan bola kaki pada hari pertama turnamen untuk peresmian tanda sudah dubuka turnamen dan bahagian dari upaya berdo’a agar berjalan lancar…” (Azhari 20 tahun). Tuturan dua remaja ini dapat dicermati pemahaman makna peusijuek didasari pada logika, berusaha memaknai menurut analisanya sendiri.
 
b.       Transpormasi Makna Penting Ritual Peusijuek Bagi Masyarakat Aceh
 Transpormasi makna penting ritual peusijuek bagi masyarakat Aceh dibahas dari dua perspektif: (1) transpormasi makna peusijuek dari perspektif sesepuh dan (2) transpormasi makna peusijuek dari perspektif generasi muda.

1)    Transpormasi Makna Peusijuek dari Perspektif Sesepuh
Ritual peusijuek merupakan adat lama mulai dari zaman animisme-dinamisme dan Hindu-Budha kemudian terakulturasi dengan masuknya Islam sampai sekarang masih eksis dalam masyarakat. Hampir semua masyarakat Aceh dari dulu sampai sekarang masih melaksanakan prosesi peusijuek dalam kegiatan-kegiatan yang diyakini perlu diadakannya peusijuek. “… peusijuek merupakan ritual sakral dalam masyarakat, hampir semua momen susah dan senang dipeusijuek, mulai dengan model menyuruh sesepuh melakukannya samapi dengan masyarakat melakukan sendiri seperti pesijuek panen padi, peusijuek penyimpanan padi dalam lumbung…” (Husen 71 tahun). Jika dicermati tuturan Husen terdapat beberapa poin penting (1) peusijuek dianggap sebagai adat sakral wajib dilaksanakan, (2) peusijuek dilakukan dihampir semua momen suka dan duka, (3) masyarakat hanya memahami prosesi dan tujuan berdoa keselamatan. Pemaknaan sebagai simbol kekuatan, sebagai media komunikasi transendental, nilai kekerabatan, bantuan dan dukungan motivasi belum dipahami oleh sesepuh, namun makna filosofi bahan material, do’a dibacakan, dan gerak isyarat diakukan dalam ritual umumnya dipahami dengan baik.
Beberapa daerah peusijuek sudah mulai ditinggalkan oleh beberapa kelompok masyarakat, akibat dari gerakan kalangan reformis atau puritan. Gerakan Muhammadiyah menjadikan fokus utama pemurnian atau pembersihan ajaran-ajaran Islam dari sinkretisme, konsep yang mengandung harmonisasi dan nilai-nilai budaya berbeda, diikuti para pelaku budaya dan sekte-sekte yang berbeda dengan menganut dua indikator; (1) memurnikan agama, item-itemnya meliputi; kembali ke teks suci, serba syariah, non-konteks, tidak taklid; (2) menjauhi sinkretisme, item-itemnya meliputi: menolak, tidak datang, tidak melakukan slametan. Gerakan ini hanya diterima dan berkembang di sekitaran perkotaan, walaupun demikian, sebagian besar masyarakat perkotaan juga masih melaksanakan prosesi peusijuek tersebut apalagi pada acara perkawinan dan naik haji.

2)    Transpormasi Makna Peusijuek dari Perspektif Generasi Muda
Peusijuek dilakukan oleh berbagai kalangan termasuk dikalangan pelajar dan mahasiswa di Aceh ketika tahun ajaran baru, hampir semua sekolah dan universitas mengadakan acara peusijuek siswa atau mahasiswa baru. Prosesi peusijuek sudah menjadi ritual budaya yang fleksibel terus dipertahankan dan dilakukan oleh para generasi muda dalam berbagai momen organisasi kepemudaan dan komunitas. Peusijuek sering mengikuti setiap acara penting seperti pelantikan pengurus baru dengan peusijuek, pembukaan turnamen, dan peusijuek teman yang mengalami musibah dalam mengikuti kegiatan. “… peusijuek merupakan ritual yang elastis bernilai riligius, pekan orientasi mahasiswa baru tidak sempurna rasanya jika tidak dipeusijuek...” (Muklis 20 tahun). Asumsi senada terkait transpormasi ritual pusijuek “… setiap pelantikan pengurus baru organisasi pelajar dan mahasiswa Aceh Jaya selalu peusijuek…” (Muli 21 tahun) jika dicermati dari tuturan dua remaja secara kasat mata bagus menjadi generasi penerus cinta budaya, namun di sisi lain lebih mendalam pada umumnya tidak memahami makna yang sebenarnya. Hal ini terlihat dari beberapa remaja yang diwawancarai tidak paham makna peusijuek, namun ia mengikuti sekedar ikut saja, ada juga beberapa diantaranya terlalu ekstrim memahami ritual peusijuek menganggap sangat sakral dan mesti dilakukan pada kegiatan-kegiatan diyakini perlu adanya peusijuek, bila meninggalkannya akan ditimpa musibah atau tidak ada keberkatan dalam menjalankan kegiatannya.

c.        Eksistensi Ritual Peusjuk Bagi Generasi Muda
Eksistensi ritual peusijuek bagi generasi muda dikaji dari dua kelompok besar: (1) kelompok generasi yang paham makna pusijuek dan (2) kelompok generasi yang tidak memahami makna ritual peusijuek.

1)    Eksistensi Ritual Peusijuek Bagi Generasi Muda Paham Makna
Pada umumnya generasi muda Aceh meskipun bersinggungan dengan globalisasi bersifat fanatik pada adat budaya dan agama. Berbicara masalah generasi muda mengikuti ritual peusiuek karena paham makna terbentuk dua sekte: (1) generasi yang mempertahankan eksistensi dan (2) generasi yang resistensi terhadap ritual peusijuek. Pertama generasi pro peusijuek memandang peusijuek mengandung nilai-nilai agama terintegrasi didalamnya, meskipun bukan sepenuhnya murni berasal dari ajaran agama Islam. Wajar diterima oleh mayoritas masyarakat Aceh dan menjadi sebuah budaya bernilai keislaman. Kedua generasi resistensi peusijuek kebanyakan merupakan kelompok reformis, dan sebagian akademisi kampus sangat menentang prosesi peusijuek tersebut.Menurut mereka peusijuek merupakan perbuatan bidah yang tidak pernah dikerjakan oleh Rasulullah mengerjakannya adalah sia-sia.
Generasi muda pro peusijuek menyatakan ritual ini disamping mengandung nilai riligius, ia juga memiliki makna penting membangun kebersamaan dan sikap positif think king optimistis selalu ada harapan baik (mukhtar 23 tahun). Generasi yang menolak memandang perbuatan mubazir, sia-sia, mengada-ngadakan yang tidak ada dasarnya dalam agama (Ronald 20 tahun). Jika dicerati dua argument generasi muda berhadapan dengan konsep yang tidak ada titik temunya, namun dalam praktik sehari-hari di rumah tokoh penentangpun peusijuek dilakukan pada momen peresmian pengantin baru dan turun tanah bayi. Generasi memahami makna pro peusijuek mampu mendominasi, dapat dilihat pada momen peusijuek mahasiwa baru, pelantikan pengurus baru dan peresmian turnamen semua generasi mengikutinya dengan khitmat. 

2)    Eksistensi Ritual Peusijuek Bagi Generasi Muda Ikut-ikutan
Genarasi muda pada umumnya tidak memahami makna peusijuek mekipun menjadi santri di pondok pesantren modern maupun tradisional. Ritual ini bergerak dan berkembang di bawah kendali masyarakat adat, meskipun yang mempeusijuek adalah kiyai. Secara kasat mata generasi muda ikut-ikutan sudah sangat meriah, namun sayangnya ritual berlangsung tanpa roh. Eksistensi peusijuek pada level ini peusijuek dijalankan dengan sifat serimoni saja. Generasi muda awam budaya ini dari sisi peusijuek bisa menjadi orang yang dipeusijuek dan bisa menjadi orang yang mempeusijuek. “…peusijuek ritual yang sederhana baca 1234567 langsung disunting…” (Adnan 18 tahun). Dari tuturan Adnan dapat dicermati posisi ia mempeusijuek temannya yang mengalami patah tuang, posisinyapun sebagai orang yang ke tiga, orang pertama peusijueknya dilakukan oleh Ustadz, kemudian dilakukan oleh guru sekolahnya dan yang ketiga adalah perwakilan dari teman yang musibah, meskipun ia tidak paham do’anya sama sekali tetapi sudah dianggap terwakili oleh sesepuh yang pertama.
Secara umum penjelasan di atas dapat digabarkan sebagai berikut

 Bagan peta konsep ritual peusijuek sebagai media komunikasi tansendental dan kekuatan simbolik bagi masyarakat Aceh modifikasi by Ridwan, MA





























Gambar 1. Bagan peta konsep ritual peusijuek sebagai media komunikasi tansendental dan kekuatan simbolik bagi masyarakat Aceh

D.      Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian di atas dapat ditarik beberapa poin kesimpulan, antara lain sebagai berikut:
1.    Makna ritual peusijuk bagi masyarakat Aceh “generasi muda”  dikupas dari dua aspek: pertama peusijuek sebagai tanda syukur dan kedua peusijuek menghadapi musibah
2.    Pemaknaan fungsi peusijuek sebagai tanda syukur dikaji dari momen ritual dilakukan; Peusijuek memulai usaha baru, menempati  rumah baru, baru memiliki kedaraan baru, mulai membangun rumah baru, dll. Dimaknai fungsi ritual peusijuk sebagai: (1) rasa syukur, (2) berbagi kebahagiaan, dan (3) memperkokok keberhasilan.
3.    Pemaknaan peusijuek dari momen musibah dimaknai ari penyebab seperti; peusijuek karena peristiwa kecelakaan, patah tulang, luka yang banyak mengeluarkan darah, karena adanya perselisihan warga, dll. Dimaknai fungsi peusijuek sebagai bahagian dari: (1) mebangun percaya diri, (2) memperkuat persaudaraan, dan (3) membangun kepedulian dalam kehidupan bermasyarakat.
4.    Transpormasi ritual peusijuk diera globalisasi dibahas dari tiga aspek: pertama ditinjau dari penyelenggaraan, kedua makna penting ritual peusijuek, dan ketiga eksistensinya bagi generasi muda.

Daftar Pustaka
Adisaputri, YD dan Widiatuti, 2015. Territorial Identification of Vernacular Settlement Cigugur through the Practice of Seren Taun Ritual in Kuningan, West Java. Procedia- Socil and Behavior Science, 184, p.196-205.
Aijmer, G., 1996. Political Ritual:Aspects of the Mao Cult During the Cultur “Revolution”. China Information. 11(2).
Bauerova, K., 2014. The Play of the Semiotic and the Symbolic: The Authenticity of the Life of Mother Maria Skobtsova. Feminist Theology, 22(3), p.290-301.
Biesele, M., 1978. Sapience and scarce resoures: Communication systems of the Kung and Other foragers. Social Science Information,17(6), p. 921-947.
Bird, 1980., The nature and function of ritual forms: A sociological discussion. Sciences Religieuses/Studies 1nreligion, 9(4), p.387-402
Chaoliaraki, L., 2008. The symbolic power of transnational media: Managing the visibility of suffering. Global Media and Communication. 4(3), p.329-351.
Cosgrove, D., 1982. The myth and the stones of venice: an historical geografhy of symbolic landscape. Journal of Historical Geography, 8, p.147-169.
Creswell, J. W., 2009. Research Design; Qualitative, Quantitative, and mixed methods approaches. 3rd penyunt. Los Angles: Sage Publications, Inc.
Daly, E., 2013. Ritual and Symbolic Power in Rousseau’s Constitutional Thought. Law, Culture and the Humanities, 12(3), p.620-646.
Diana Quiroz, Marc Sosef, Tinde van Andel, 2016. Why ritual plant use has ethnopharmacologi relevance. Journal of Ethnopharmacology, 188, p.48-56.
Glik, DC., 1988. Symbolic ritual and social dynamics of spiritual healing. Social Science & Medicine, 27, p.1197-1206.
Gonda, J., 1972. The significance of the right hand and the right side in vedic ritual. Religion, 2, p.1-23.
Hedley, C., 2013. A Study in Africana Existential Ontology: Rum as a Metaphor of Existence. Diogenes, 4, p.106-125
Herbert, DEJ., 2011. Theorizing religion and media in contemporary societies: An account of religious ‘publicization’. European Journal of Cultural Studies, 14(6) 626–648
Kadar, DZ dan Bax, MMH., 2013. In-group ritual and work. Journal of Pragmatics, 58, p.73-86.
Keane, J., 1982, Communication, ideology and the problem of voluntary servitude. Media, Culture and society, 4, p.161-170.
Lawson, ET., 1976. Ritual as language. Religion, 6(2), p.123-139.
Lebulu, JL. 1979. Religion as the dominant Element of the superstructure among the Pare of Tanzania. Social Compass, 26, p.417-
Minowa, Y., 2012. Practicing Qi and consuming Ki: Folk epistemology and consumption rituals in Japan. Marketing Theory, 12(1), p.27–44.
Miles, MB dan  Huberman, AM., 1994. Qualitative Data Analysis. 2nd penyunt. London: Sage Publications Ltd
Mrosan, MP., 2014. Transcendental marfologi: A phenomenological Interpretation of human and non human cosmos,   
 Robb, J., 2001. Sland identities: ritual, travel and the creation of difference in neolithic malta. European journanof archaelogy, 4(2), p.175, 202.
Stolow, J., 2004. Transnationalism and the New Religio-politics Reflections on a Jewish Orthodox Case. Heory, Culture dan Society,21(2). P.109-137
 Trumpbour, RC., 2007. Rituals, Invented Traditions, and Shifting Power: The Role of Communication in the History of Stadium Construction. Journal of Communication Inquiry, 31(4), p.2007.
Walsh, LV., 2006. Beliefs and rituals in traditional birth attendant practice in Guatemala. Journal of Transcultural Nursing, 17(2), p.148-154.
Agerskov, J., 1979. Toward the light: A message to mankind from the transcendental world. Denmark: Copenhagen

19 Maret 2017

Pembelajaran Berbasis Budaya Lokal : Sebuah Refleksi Pembelajaran Interaksi Sosial di Kedai Kopi Aceh by Ridwan, MA Aceh

Pembeljaran kontekstual berbasis budaya lokal dapat diandalkan sebagai solusi meningkatkan percaya diri siswa. Pembelajaran berbasis budaya lokal merupakan strategi penciptaan lingkungan belajar dan perancangan pengalaman belajar yang mengintegrasikan budaya lokal sebagai bagian dari proses pembelajaran. Pembelajaran berbasis budaya lokal dilandaskan pada pengakuan terhadap budaya sebagai bagian yang fundamental bagi pendidikan sebagai ekspresi dan komunikasi suatu gagasan dan perkembangan pengetahuan (Sardjiyo & Pannen, 2005). Pembelajaran jenis ini membuat siswa tidak hanya meniru dan menerima informasi yang disampaikan tetapi siswa menciptakan makna, pemahaman, dan mengembangkan pengetahuan yang diperoleh dalam pembelajaran. Proses pembelajarannya tidak hanya mentransfer budaya serta perwujudan budaya tetapi menggunakan budaya untuk menjadikan siswa mampu menciptakan makna, menembus batas imajinasi, dan kreatif dalam mencapai pemahaman yang mendalam tentang interasi manusi dengan lingkungan sosial.
Budaya lokal yang duganakan dalam tulisan ini adalah interaksi sosial di kedai kopi Aceh  sebagai ruang publik. Dilihat dari history interaksi sosial di ruang publik Aceh, dahulu adanya meunasah (surau), balai mukim (balai RT), balai gampong (balai RW) dan kedai kopi. Fungsinya sebagai tempat berkumpul, belajar agama, dan mengembangkan peracya diri berpidato. Pasca konflik dan tsunami di Aceh fungsi meunasah, balai mukim, balai gampong menjadi tempat administrasi, sidang adat dan rapat warga. Sedangkan “warung kopi” semakin menjamur dan berkembang pesat di Aceh sebagai public space. Bentuk semacam ini, disadari atau tidak telah menjadi tanda yang mengukuhkan sebuah identitas baru bagi masyarakat Aceh (Edelmen, 2001).

Bagi masyarakat Aceh, kedai kopi bukan hanya sekedar tempat minum kopi, tetapi memiliki berbagai fungsi. Masyarakat dari berbagai generasi berkumpul di kedai untuk minum kopi sambil membahas berbagai hal secara langsung dan terbuka.  Semua kalangan bebas ikut serta dalam diskusi tanpa memandang batasan umur, pangkat, jabatan maupun status sosial dengan syarat membeli serta minum kopi di kedai tersebut. Sejak jaman dahulu, masyarakat Aceh memiliki kebiasaan minum kopi di kedai dan kebiasaan ini masih berlangsung terus sampai sekarang, utamanya oleh generasi muda. Pemuda Aceh sangat menggemari kopi. Mereka memiliki semboyan “tiada hari tanpa minum kopi”. Bahkan pasca konflik dan bencana Tsunami tahun 2004, jumlah pelaku minum kopi di kedai meningkat secara drastis. Hal ini terjadi akibat adanya perasaan aman serta kebebasan pada saat berkumpul. Semakin bertambahnya jumlah pelaku minum kopi di kedai mendorong banyaknya jumlah kedai kopi sehingga Aceh dikenal sebagai negeri seribu warung kopi.
Berbicara tentang kontek pembelajaran dalam interaksi sosial di warung kopi Aceh menjadi sesuatu yang unik dan menarik perhatian siswa dalam tulisan ini penulis kemas dalam model discovery learning. Jika dicermati interaksi sosial diwarung kopi dapat membangun percaya diri, sebab interaksi sosial di warung kopi Aceh membuka lebar diskusi bebas mulai dari bidang ekonomi, politik sosial dan budaya. Umumnya peminum kopi mengungkapkan ide gagasannya, mulai dari mebuka topik diskusi atau menanggapi, ada yang menanggapi serius, menilai sesuai kemampuan dan latar belakang masing-masing. Hal ini sangat positif mendorong percaya diri bertanya, mengungkapkan ide dan melatih keterbukaan terhadap kritikan, bahkan dihujam kalau gagasan menyolok. Namun ada sisi yang berbeda ketika siswa percaya diri di warung kopi, tetapi menjadi tidak percaya diri ketika berinteraksi dalam pembelajran di kelas sekolah formal. 
Pentingnya menerapkan model pembelajaran yang dapat membangun percaya diri seperti di warung kopi yang dapat mengalir menyampaikan gagasan dalam diskusi panjang dan berjam-jam. Dalam meningkatkan percaya diri siswa, tulisan ini menggunakan teori (McClelland, 1976) N-Ach hasrat untuk meraih prestasi setinggi-tingginya, dan teori belajar sosial Bandura yang menekankan konsep self-sistem (sistem diri) pribadi (personal), perilaku (behavior), dan lingkungan (environment) saling mempengaruhi satu sama lain (Bandura, 1971).

1.    Pembelajaran kontekstual berbasis budaya lokal
Pendekatan pembelajaran kontekstual merupakan suatu pendekatan pembelajaran yang menekankan pada proses keterlibatan siswa secara penuh untuk dapat menemukan materi yang dipelajari dan menghubungkannya dengan situasi kehidupan nyata sehingga mendorong siswa untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan (Sanjaya, 2006). Sedangkan pembelajaran berbasis budaya terbagai tiga: (1) belajar tentang budaya (menempatkan budaya sebagai bidang ilmu), (2) Belajar dengan budaya (budaya sebagai cara atau metode mempelajari sesuatu), dan (3) belajar melalui budaya (metode yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk menunjukkan pencapaian pemahaman atau makna yang diciptakannya dari perwujudan budaya (Goldberg, 2000).
Pembelajaran kontekstual berbasis budaya lokal yang dimaksud dalam tulisan ini berupa strategi penciptaan lingkungan belajar dan perancangan pengalaman belajar yang mengintegrasikan budaya lokal sebagai bagian dari proses pembelajaran dan membuat siswa mampu menciptakan makna, pemahaman, dan mengembangkan pengetahuan dan kepercayaan diri. Penulis membatasi pendalaman pembahasannya pada pendekatan pembelajaran kontekstual yang bertujuan membantu siswa menemukan keterkaitan antara apa yang dipelajari di kelas dengan kehidupan sehari-hari (kehidupan nyata) yang mendorong mereka penuh percaya diri dalam mengikuti setiap langkah pembelajaran kontekstual dalam mata pelajaran IPS. 

2. Jenis Pembelajaran Berbasis Budaya
Ada empat hal yang harus diperhatikan dalam pembelajaran berbasis budaya sebagai berikut.     1.  Substansi dan kompetensi bidang studi
      Pembelajaran berbasis budaya lebih menekankan tercapainya pemahaman yang terpadu (integrated understansing) daripada sekedar pemahaman mendalam (inert understanding). Pemahaman terpadu membuat siswa mampu bertindak secara mandiri berdasarkan prinsip ilmiah untuk menyelesaikan permasalahan yang dihadapinya dalam konteks komunitas budaya dan mendorong siswa untuk kreatif terus mencari dan menemukan gagasan berdasarkan konsep dan prinsip ilmiah.

2. Kebermaknaan dan proses pembelajaran
     Aktivitas dalam pembelajaran berbasis budaya tidak hanya dirancang untuk mengaktifkan siswa tetapi dibuat untuk memfasilitasi terjadinya interaksi sosial dan negosiasi makna sampai terjadi penciptaan makna. Proses penciptaan makna melalui proses pembelajaran berbasis budaya memiliki beberapa komponen yaitu: tugas yang bermakna, interaksi aktif, penjelasan dan penerapan ilmu secara kontekstual dan pemanfaatan beragam sumber belajar.

3.  Penilaian hasil belajar
    Konsep penilaian hasil belajar dalam pembelajaran berbasis budaya adalah beragam perwujudan (multiple representation). Misalnya: merancang suatu proyek dalam kegiatan pembelajaran akan merangsang imajinasi dan kreativitas siswa (Weiner, 2003). Salah satu cara yang digunakan untuk membuat proyek yaitu dengan menuangkan fenomena-fenomena yang mereka temui dalam kehidupan nyata dan kejadian yang mereka alami yang sesuai dengan kegiatan pembelajaran. Kegiatan ini membuat siswa aktif belajar tentang bagaimana melakukan studi budaya. Aspek penting dari proyek ini adalah mempresentasikan proyek yang sudah dibuat dan siswa yang lain memberikan tanggapan terhadap proyek/media yang dipresentasikan. Dalam hal ini, pelaksanaan penilaian dilakukan secara bersama, yakni dari siswa sendiri, siswa yang lain, dan guru berdasarkan beberapa kriteria yang ditentukan oleh guru. 

4. Peran budaya
     Budaya menjadi sebuah metode bagi siswa untuk mentransformasikan hasil observasi ke dalam bentuk dan prinsip yang kreatif tentang bidang-bidang ilmu. Budaya dalam berbagai perwujudannya, secara instrumental dapat berfungsi sebagai media pembelajaran dalam proses belajar. Sebagai media pembelajaran, budaya dan beragam perwujudannya dapat menjadi konteks dari contoh tentang konsep atau prinsip dalam suatu mata pelajaran serta menjadi konteks penerapan prinsip dalam suatu mata pelajaran.
Keempat komponen tersebut saling berinteraksi sehingga memiliki implikasi dalam pembelajaran berbasis budaya antara lain (Wahyudi, 2003):

1) Pihak guru, 
Guru dituntut memiliki kemampuan untuk mengeksplorasi segala informasi yang berkaitan tentang budaya setempat pada materi yang akan dibahas. Guru berperan memandu dan mengarahkan potensi siswa untuk menggali beragam budaya yang sudah diketahui, serta mengembangkan budaya tersebut.

2) Pihak siswa, 
Pembelajaran berbasis budaya lebih menekankan tercapainya pemahaman yang terpadu (integrated understanding) dari pada hanya sekedar pemahaman mendalam (inert understanding). Pemahaman terpadu sebagai hasil pembelajaran berbasis budaya menciptakan suatu kebermaknaan oleh siswa terhadap suatu subtansi materi dan konteksnya. Siswa dalam kegiatan pembelajaran selalu dibawa ke konteks nyata yang mengandung unsur-unsur budaya, sehingga dalam proses konstruksi konsep, siswa mampu melakukan kegiatan tersebut dengan lebih bermakna. 
Pengetahuan dan pengalaman tentang proses penemuan serta proses penyelesaian masalah dalam bidang ilmu, mengasah kemampuan siswa dalam merumuskan permasalahan dan hipotesis, merancang percobaan dan penelitian, serta menghasilkan pemecahan yang terpercaya. Selain itu, siswa memiliki keterampilan untuk menerapkan pengetahuan sosial budaya dan berbagai pengetahuan lainnya untuk memecahkan masalah dalam konteks yang lebih luas lagi, yaitu komunitas budaya, nasional, regional.
Sumber belajar utama yang dapat digunakan dalam pembelajaran berbasis budaya dapat berbentuk teks tertulis seperti buku pembelajarn sains, bukti-bukti budaya, nara sumber budaya, atau berupa lingkungan sekitar seperti lingkungan alam dan lingkungan sosial sehari-hari. Goldberg (2000) membedakan pembelajaran berbasis budaya  menjadi tiga macam yaitu:

1) Belajar tentang budaya (menempatkan budaya sebagai bidang ilmu).
Budaya dipelajari dalam satu mata pelajaran khusus dan tidak diintegrasikan dengan mata pelajaran yang lain. Namun, banyak sekolah yang tidak memiliki sumber belajar yang memadai sehingga mata pelajaran tersebut menjadi mata pelajaran hafalan dari buku atau cerita guru yang belum pasti kebenarannya.

2)  Belajar dengan budaya.
Belajar dengan budaya terjadi pada saat budaya diperkenalkan kepada siswa sebagai cara atau metode untuk mempelajari suatu mata pelajaran tertentu. Belajar dengan budaya menjadikan budaya dan perwujudannya sebagai media pembelajaran dalam proses belajar, konteks dari contoh tentang konsep atau prinsip dalam mata pelajaran, serta konteks penerapan prinsip atau prosedur dalam suatu mata pelajaran. 

3) Belajar melalui budaya.
Belajar melalui budaya merupakan metode yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk menunjukkan pencapaian pemahaman atau makna yang diciptakannya dalam suatu mata pelajaran melalui ragam perwujudan budaya.