Guru Inovatif Siswa Kreatif

Guru Inovatif Siswa Kreatif

Total Tayangan Halaman

17 Desember 2016

Cambuk Perdana Cekgu: Upaya Peningkatan Self Confidence Siswa Melalui Pembelajaran Kontekstual Materi Interaksi Manusia dengan Lingkungan Sosial Kelas VII SMPN 3 Panga Aceh Jaya


Prof. Dr. Sarmini, M.Hum
Dosen Pembimbig

Ridwan
Guru SMPN 3 Panga Aceh Jaya Email: ridwanteunom@gmail.com

Pendahuluan
Berbicara tentang percaya diri[1] telah banyak dilakukan dalam beberapa disiplin ilmu, terutama dilakukan dalam bidang psikologi pendidikan. Pada dasarnya penelitian berlatar belakang pentingnya percaya diri yang tinggi dalam pembelajaran sangat urgen juga dilakukan dalam bidang studi ilmu pengetahuan sosial (IPS). Karena pembelajaran IPS pada dasarnya bukanlah sekedar penyajian materi saja, tetapi lebih menitik beratkan perhatian pada ranah afektif agar siswa berkarakter. Salah satu bahagian dari indikator karakter yang penulis sorot adalah percaya diri, dalam hal ini percaya diri bukan yang dilihat dalam bentuk hasil belajar, tetapi percaya diri dalam proses pembelajaran IPS.
Penelitian tentang percaya diri dalam pembelajaran telah menarik perhatian banyak peneliti[2], penulis mengkaji penelitian terdahulu yang relevan dilakukan oleh (Hendrian,Slamet dan Sumarno, 2014), dilakukan di Kabupaten Manokwari. Penelitian ini menguji peran kemampuan dasar dan pendekatan pembelajaran kontekstual dalam pencapaian kemampuan koneksi dan kepercayaan diri siswa sekolah menengah pertama (SMP). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan pendekatan kontekstual learning (CTL) lebih baik capaian nilai dari model konvensional berada di level rendah, namun terdapat korelasi antara koneksi kemampuan dasar dengan kepercayaan diri siswa menunjukkan persepsi positif terhadap pelaksanaan CTL.
Mengingat penekanan pembelajaran IPS lebih difokuskan pada ranah afektif dalam pembentukan karakter siswa, maka menurut penulis pembinaan percaya diri dalam pembelajaran IPS sangat urgen dilakukan penelitian, karena percaya diri merupakan sebuah kunci untama siswa belajar lebih gigih, menggerakkan usaha lebih maksimal, berani bertanya dan dapat bekerja sama dengan baik dalam mengikuti pembelajaran. Oleh karena itu, guru dituntut agar senantiasa mengedepankan penghargaan dan penilaian pada partisipasi siswa bukan hanya prestasi saja. Percaya diri yang baik menjadi pendorong siswa untuk belajar lebih baik, maka dalam penelitian ini peneliti mencoba mengembangkan teori sosial David McClelland N-Ach hasrat untuk meraih prestasi setinggi-tingginya.
Masih berkaitan dengan percaya diri siswa dalam pembelajaran, penulis mengkaji penelitian yang dilakukan oleh (Alias dan Hafir, 2009). Penelitiannya bertujuan untuk mengetahuihubungan antara jenis keyakinan yang merangsang stimulus, nilaikepercayaan diri dan kinerja kognitif. Sampelpenelitian terdiri dari dua kelompok rekayasaJenis kepercayaan merangsang stimulus (positif atau negatif)Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelompok yang positif memilikistatistic tingkat academic self-confidence (ASC) secara signifikan lebih tinggi(3,08) dibandingkan dengan kelompok negatif (2,67) dan kelompok positif jugamenunjukkan kognitif statistik signifikan lebih tinggi kinerja dibandingkan dengan kelompok negatif 71dan 54% masing-masing. Hal ini disimpulkanyang meningkatkan ASC dapat meningkatkan kinerja kognitif mereka.
Selanjutnya penelitian yang berkaitan dengan percaya diri dilakukan dengan cara yang berbeda oleh (Singh dan Kaur, 2008), melakukan penelitian eksperimen meditasi untuk meningkatkan percaya diri. Penelitiannya bertujuan untuk mengetahui pengaruh meditasi padakepercayaan diri dari guru dan siswaSebuah percobaan dilakukan pada 152siswa dan guru. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meditasi merupakanpraktik yang efektif untuk meningkatkan rasa percaya diriLebih lanjut, gender ditemukan secara signifikan mempengaruhi kepercayaan dirisedangkan agama tidak mempengaruhi percaya diri.
Masih berkaitan dengan penelitian percaya diri juga dilakukan oleh (Naeem, Shabir, Umar, Shabir, Nadvi, Hayat dan Azher, 2014), di Sargoda. Penelitian ini mengkaji dukungan sosial untuk menentukan harga diri. Penelitiannya menguji hubungan antara dukungan sosial dan harga diri siswa. Sejauh mana dukungan sosial dapat digunakan untuk memprediksi harga diri. Pemeriksaan hubungan tertentu antara dukungan sosial dan harga diri, dirasakan dukungan sosial, dukungan orang tua dan rekan memberikan kontribusi yang signifikan terhadap kepercayaan diri. Penelitian ini mengkaji dukungan sosial dalam kaitannya dengan bagaimana otonom individu untuk menjadi percaya dirinyaPenelitian ini juga meneliti perbedaan gender pada dukungan sosial dan harga diri, yang akan memberikan temuan bagi para peneliti dan orang tua dan pendidik untuk menerapkan di bidang akademik siswa.
Penelitian berikutnya berkaitan dengan kepercayaan diri dan pengaruhnya terhadap motivasi prestasi belajar siswa yang dilakukan oleh (Ordonez, Carlos, Stoller, Friederike, Remmele, dan Bernd, 2015). Penelitiannya bertujuan untuk menguji apakah ada hubungan antara kepercayaan diri dengan motivasi berprestasi pada siswa. Penelitian ini menggunakan analisis korelasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara kepercayaan diri dengan motivasi berprestasi pada siswa dengan koefisien korelasi pearson (r) yang diperoleh sebesar 0,525 dan nilai sig. (1- tailed) sebesar 0,000, dimana apabila kepercayaan diri semakin tinggi maka akan semakin tinggi pula motivasi berprestasi dari siswa dan sebaliknya.
Selanjutnya penelitian tentang peningkatan kepercayaan diri remaja penganggur melalui kelompok dukungan sosial penulis kaji penelitian yang dilakukan oleh (Afiatin dan Andayani, 1998). Mereka menyimpulkan percaya diri merupakan aspek paling penting bagi manusia untuk mencapai prestasi.Remaja pengangguran cenderung memiliki rasa percaya diri yang rendah karena lebih banyak menyendiri. Kondisi rendah diri sangat mengganggu perkembangan kepribadian remaja. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa peningkatan kepercayaan diri remaja penganggur lebih efektif melalui kelompok dukungan sosial.
Berikutnya penulis mengkaji penelitian hubungan antara kepercayaan diri denganemployability yang dilakukan oleh (Saputro dan Suseno, 2010). Penelitian mereka bertujuan untuk mengetahui apakah ada hubungan positif antara kepercayaan diri dengan employability. Skala yang digunakan dalam penelitian ini adalah skala kepercayaan diri dengan mengacu pada aspekaspek yang dikemukakan oleh Lauster dan Guilford (Afiatin dan Andayani, 1998) dan skala employability yang mengacu pada aspekaspek yang dikemukakan oleh (Pool dan Sewell, 2007). Hasil penelitian menunjukkan ada hubungan positif antara kepercayaan diri dengan employability, yang ditunjukkan dari analisis korelasi product moment pearson yaitu r = 0,659 (p <0,01), serta sumbangan efektif sebesar 43,4%.
Selanjutnya penulis mengkaji penelitian yang mempromosikan kepercayaan diri, motivasi dan keterampilan belajar. Kompetensi dasar yang diperlukan siswa untuk berpartisipasi dalam masyarakat Eropa, dan bagaimana bisa mereka peroleh secara berkelanjutan. Dalam perjalanan waktu dua tahun konsep lokakarya untuk staf di pendidikan dasar yang akan disesuaikan dengan kemampuan kelompok guru sasaran. Konsep akan memberikan dukungan kepada guru pendidikan dasar dalammempromosikan kepercayaan diri siswa mereka, keterampilan belajar dan motivasi belajar. Hasil penelitian menemukan bahwa secara teoritis mengarah pada konsep lokakarya untuk staf pendidikan, kemudian diuji dan dievaluasi dalam lokakarya percontohan di tiga proyek yang berbeda lembaga mitra.Karena kerja sama dengan guru dan peserta didik, pekerjaan ini adalah untuk dipertimbangkan dalam penelitian tindakan.
Usaha untukmengungkapkan bahwa self regulated learning (SRL)keterampilan berada di tengah proses pembelajaran dan penting untuk belajar sepanjang hayat dan inklusi. Meskipun demikian, strategi SRL hanya secara acak diajarkan. Pemeriksaan lebih lanjut mengungkapkan bahwa, untukmempromosikan motivasi, penting untuk fokus pada kompetensi yang sudah diperoleh dan untuk memasukkan isu-isu kehidupan sehari-hari ke dalam pembelajaran. Sebuah konsep kontemporer pendidikan dasar harus memenuhi banyak persyaratan antara lain; kemampuan beradaptasi untuk konten yang berbeda daerah, tuntutan kelompok sasaran dan pemangku kepentingan. Karena tidak ada konsep tunggal yang dapat memenuhi semua persyaratan, perlu untuk fokus pada kompetensi yang memungkinkan peserta didik untuk menjadi lebih otonom dan lebih baik (Ordonez, Carlos, Stoller, Friederike, Remmele, dan Bernd, 2015).
Penelitian lain melakukan teskeberanian,tanggung jawab danrasa percaya diripada remaja. Untuk eksis sebagai subjek, individu harus berkonsolidasi dengan masa lalunya, mengambil manfaat dan mengatur masa depannya menjadi lebih baik dari masaa lalunya. Membangun kepercayaan diri mengalahkan rasa renda diri, rasa penuh harga diri mengalahkan keragu-raguan dalam diri, mengeksplorasi semua kemampuan dan keinginan sebagai subyek mencoba untuk berkontribusi yang berarti bagi masa depan dan membangun sebuah rencana hidup menyusun jalur karir. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kesulitan apa yang dihadapi oleh remaja dalam proses bimbingan karir untuk merumuskan rekomendasi untuk perbaikan. Hasil penenlitian menemukan bahwa pengembangan representasi diri  untuk masa depan siswa yang kongruen dengan hubungan organisasi sosial.
Cara yang efisien untuk mengelola semua kesulitan tampaknya menjadi sebuah pencarian berliku-liku; kadang-kadang siswa melihat pada rencana karir mereka dengan cara terlalu idealis, atau berharap sesuatu harus langsung ada, baik itu dalam bentuk biasa atau prestasi. Oleh karena itu, dalam mengembangkan rencana karir, pemuda berusaha untuk memberikan arti bagi kehidupan mereka, di bawah beberapa kendala dari pengaruh eksternal dan aturan-aturan sosial, yang semuanya menentukan mereka untuk mengambil serangkaian keputusan sehubungan dengan masa depan mereka sendiri. Akumulasi kesulitan tersebut, terkait dengan tekanan internal atau eksternal remaja adalah sasaran yang dapat meganngu kesejahteraan, dapat meningkatkan rasa tak berdaya, dapat menyebabkan stres, mungkin dibuktikan melalui: kelelahan, agitasi, mood depresi, dan perubahan somatik.
Siswa yang sering merasakan perbedaan antara pilihan "ideal" dan kenyataan sosio-ekonomi, yang mempengaruhi keadaan emosi. Mereka merasa terpaksa untuk membuat pilihan, pada saat mereka belum memiliki gambaran rencana karir yang baik. Mereka merasa takut dalam waktu yang relatif singkat, mereka akan menyesal dengan pilihan dini. Orientasi memungkinkan siswa untuk memahami bagaimana kendala yang berbeda, batas-batas situasi tertentu, dapat ditafsirkan kembali dan digunakan untuk mencapai objek yang jelas. Dalam hal ini, perlu bagi individu untuk merefleksikan diri sendiri, pada kepentingan mereka, aspirasi dan keinginan mereka, pada ketakutan mereka sendiri, kecemasan dan keraguan. Individu yang harus berusaha dengan sekuat tenaga untuk dapat mengelola secara efektif potensi dan sumber daya mereka untuk mewujudkan keinginan dalam berinteraksi untuk memastikan kelancaran adaptasi yang akan membuat mereka nyaman emosional dan pada saat yang sama, manajemen yang efektif dalam menekuni karir mereka (Safta, 2015).
Berkaitan kepercayaan diri di pengaruhi oleh budaya dapat dilihat dalam penelitian menganalisis faktor kepercayaan diri dari sisi antar budaya dalam kelompok siswa. Kajian ini didedikasikan untuk analisis hasil penelitian lintas budaya spesifik ethnopsychological kepercayaan diri siswa dari berbagai negara. Lebih spesifik kajian ini menganggap dalam struktur kepercayaan dari siswa dari Rusia, Cina, Guinea-Bissau dan Ekuador dengan pendekatan sistem fungsional untuk penelitian kepribadian. Dalam semua kelompok siswa tujuan dan motif kepercayaan diri sangat mendorong sikap secara langsung berkaitan dengan efektivitas berperilaku. Perbandingan struktur faktorial kepercayaan diri siswa dari Rusia, Cina, Guinea-Bissau dan Ekuador memungkinkan peneliti untuk menyimpulkan bahwa kekhususanethnopsychological diwujudkan tidak hanya di tingkat ekspresi dari berbagai variabel kepercayaan diri, tetapi juga dalam struktur psikologis mereka.
Hasil penelitan menyimpulkan bahwa para siswa Rusia memahami kepercayaan diri sebagai individu yang aktif. Mereka berani mengambil resiko, aktif memecahkan masalah dan semangat berdiskusi. Mereka juga jarang mengakui kekurangannya pada orang lain dan lebih sering merasa puas jika memenangkan perdebatan. Siswa Rusia merasa lebih tertantang dengan kegiatan yang berisiko, berani berbisnis walaupun belum begitu manguasai tentang bisnis dan memiliki perasaan optimis melakukan berbagai inisiatif dan tinggi otonom idividu. Berbanding terbalik degan para siswa Cina, manifestasi dari keyakinan mereka ditandai oleh keinginan untuk mendapatkan persetujuan sosial dan disetujui oleh kelompok. Mereka mulai bekerja hanya ketika mereka benar-benar yakin kemampuan mereka untuk melaksanakannya. Siswa dari Cina merasa lebih percaya diri ketika mereka mencari dukungan. Jika mereka harus membuat pilihan, mereka memberikan pilihan cadangan. Mereka dapat menjadi bingung dalam berbagai situasi dan merasa tidak aman dengan kondisi yang baru.
Kontruksi kepercayaan diri siswa dari Ekuador terlihat lebih nyaman dengan adanya pengaturan diri dan pengontrol dari luar dirinya. Efisiensi perilaku percaya diri mereka terhubung dengan pengalaman emosional perasaan kegembiraan dan kebanggaan dari tindakan yang mereka yakin benar,  tetapi pada saat yang sama siswa Ekuador memiliki perasaan kewaspadaan jika diperlukan untuk membuat pilihan, perasaan kebingungan sebelum berkerja keras. Mereka juga kurang memiliki keterampilan berperilaku percaya diri yang matang dan terukur. Berbanding terbalik dengan perilaku percaya diri siswa dari Guinea-Bissau, mereka memiliki motif egosentris yang kuat. Keinginan untuk mengekspresikan diri mereka dan untuk membuktikan kemampuan mereka, keinginan untuk mendapatkan kemerdekaan dan mewujudkan diri. Mereka pada umumnya ingin mengembangkan kualitas, mental yang kuat dan ingin berdiri sendiri tanpa ketergantungan pada orang lain. Mereka juga menganggap bahwa kepercayaan diri yang kuat akan membantu mereka dengan pertumbuhan karier, dengan pencapaian pengakuan publik, banyak pengalaman hidup dan meluasnya interaksi sosial.
Penelitian lain berkaitan dengan kebencian menggiring seseorang cemas dan tidak percaya diri di bahas dalam penelitian yang menggunakan sampel 322 siswa kelas empat dan 277 angket valid dikembalikan. Penelitian ini menggunakan analisis faktor konfirmatori dengan struktur persamaan pemodelan, hasil penelitian menunjukkan bahwa jika siswa memiliki kadar benih kebencian, mereka mengalami lebih tinggi tingkat kecemasan saat mengikuti pembelajaran di kelas. Tinggi tingkat kecemasan juga dialami oleh siswa yang lebih rendah kemampuan dan minat belajar mereka. Lebih lanjut, semakin tinggi tingkat semangat mengenai belajar, semakin tinggi siswa percaya diri. Hasil ini tersirat bahwa guru harus mengurangi keengganan siswa sebelum memulai pembelajaran agar minat dan percaya diri siswa tumbuh dengan baik (Chao, Chin, Yueh, Chun, Chih, dan Ying, 2015).
Penelitian lain yang menguji kepercayaan diri dan pengaruhnya terhadap pengerjaan tugas dengan baik serta akan meningkat usaha dan kinerja. Hasil penelitian menemukan interaksi kelompok x trial (F (1, 26) = 6.73, p <0,05, h 2 = 0,21). Kepercayaan diri mempengaruhi peningkatan yang signifikan dalam meningkatkan usaha dan kinerja mengerjakan tugas. Beberapa keraguan diri bisa mengurangi usaha dan kinerja. Penelitian ini merekomendasi adanya hubungan linear secara positif antara kepercayaan diri dan kinerja (Woodman, Akehurst, Hardy, dan Beattie2010). Sedangkan peran guru dapat dilihat dalam penelitian peran guru dalam pembelajaran sangat komplek, maka sangat penting pendidik merancang kegiatan pembelajaran dengan model yang berfariasi, kreatif dan inovatif. Metode penelitian ini menggunakan kuantitatif, kuasi-eksperimental, kelompok pembanding dengan desain pembelajaran konvensional dan dibandingkan menggunakan simulasi di kelas. Para peserta melaporkan kepuasan mereka dengan metode pengajaran simulasi yang digunakan di kelas dan rasa kepercayaan diri siswa dalam mempelajari materi baru. Skor kepuasan dan kepercayaan diri secara signifikan lebih tinggi dengan strategi studi simulasi (Zulkosky, 2012).
Berkaitan dengan penelitian pendekatan pembelajaran kontekstual dalam pembelajaran IPS, penulis mengkaji penelitian yang dilakukan oleh (Yuliastuti, 2014). Penelitiannya bertujuan untuk mengkaji peningkatkan keterampilan sosial siswa melalui pendekatan pembelajaran kontekstual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan pendekatan pembelajaran kontekstual dapat membuat siswa lebih aktif, kerjasamanya lebih menonjol, materi, metode, dan media yang bervariasi dalam setiap siklusnya. Peningkatan keterampilan sosial siswa dapat dilihat dari rata-rata keseluruhan maupun dari setiap aspek keterampilan sosialnya.
Masih berkaitan dengan pendekatan kontekstual penulis mengkaji penerapan pendekatan pembelajaran kontekstual untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa yang dilakukan oleh (Guniati, Yudana, dan Pursika, 2013). Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji peningkatan aktivitas dan hasil belajar siswa melalui pendekatan kontekstual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi peningkatan aktivitas belajar siswa dari kategori kurang aktif pada siklus I menjadi berkategori aktif pada siklus II. Selain itu terjadi peningkatan pula terhadap hasil belajar siswa setelah penerapan pendekatan pembelajaran kontekstual.
Berbagai penelitian yang berlatar belakang pentingnya percaya diri sebagai wujud nyata dari motivasi untuk meraih prestasi penulis kaji dengan cermat. Fokus kajian kepercayaan diri dalam tulisan ini adalah pada pembelajaran kontekstual yang telah banyak menarik minat peneliti, antara lain: tinjauan aspek hasil belajar adanya penelitian pengaruh metode pembelajaran kontekstual terhadap hasil belajar IPS Geografi ditinjau dari motivasi belajar siswa (Kristanti, 2010). Aspek pengembangan pendekatan dilakukan penelitian tentang bagaimana mengembangkan pembelajaran IPS yang kontekstual di sekolah dengan memasukkan konsep etos kerja, enterpreneurship, dan peningkatan rasa percaya diri siswa, (Atminingsih, 2010). Aspek nilai karakter telah dilakukan penelitian penerapan model kontekstual pada pembelajaran IPS untuk meningkatkan nilai karakter (Yunita, Kuswadi dan Chumdari, 2013). Aspek peningkatan kreatifitas siswa telah dipaparkan dalam penelitian penerapan pembelajaran kontekstual untuk meningkatkan keaktifan siswa dalam pembelajaran (Rokhman, Aman, Mutiarsih, dan Sanjaya, 2013). Aspek peningkatan sikap demokrasi adanya penelitian penerapan pembelajaran kontekstual untuk meningkatkan sikap demokrasi pada mata pelajaran IPS (Riati, 2015).
Dari berbagai penelitian di atas, peneliti mencoba mengembangkan salah satu rekomendasi penelitian (Suhardita, 2010), dari hasil penelitiannya menunjukkan bahwa terdapat perubahan yang signifikan percaya diri siswa setelah diberikan intervensipenggunaan teknik permainan dalam bimbingan. Dari hasil penelitian tersebut Suhardita merekomendasi agar guru dapat mengkolaborasikan bimbingan dengan teknik permainan agar suasana belajar yang diciptakan menyenangkan. Sedangkan alasan lain yang memperkuat dorongan peneneliti adalah rekomendasi kedua dari Suhardita untuk peneliti lanjutan jika ingin meneliti tentang peningkatan percaya diri perlu juga mengkaji pola pembinaan percaya diri dalam pembelajaran yang harus dilakukan oleh guru agar pembinaan kepercayaan diri dapat terpadu, bukan hanya tugas masalah percaya diri siwa serta merta dilimpahkan tugas guru pembimbing. Perlu juga dikaji dalam sisi pembelajaran di kelas, guru menggunakan media apa, model apa atau pendekatan apa serta bagaimana bentuk penghargaan yang diberikan kepada siswa di sekolah, sehingga penelitian yang dilakukan lebih baik dan lebih luas dikaji dari berbagai disiplin ilmu.
Penelitian ini berkaiatan dengan bagaimana peningkatan percaya diri siswa dalam pembelajaran kontekstual materi interaksi manusia mata pelajaran IPS, maka penekanannya adalah pada karakteristik pembelajaran kontekstual yang mengintegrasikan pola pembinaan percaya diri siswa dan bagaimana bentuk percaya diri siswa yang muncul dalam pembelajaran meteri interaksi manusia mata pelajaran IPS. Lebih lanjut berkaitan dengan pendekatan kontekstual, penulis juga mengembangkan penelitian yang dilakukan oleh (Darma, Putu, Wayan dan Koyan, 2013) penelitian mereka bertujuan untuk mengetahui pengaruh pendekatan pembelajaran kontekstual dan minat belajar terhadap hasil belajar.
Hasil penelitian Darma dkk. yaitu: (1) hasil belajar siswa yang mengikuti pendekatan pembelajaran kontekstual lebih tinggi daripada siswa yang mengikuti pendekatan pembelajaran konvensional (FA=21,29 < α=0,05), (2) terdapat pengaruh interaksi yang signifikan antara pendekatan pembelajaran dan minat belajar terhadap hasil belajar (FAB=71,32 < α=0,05), (3) untuk siswa yang memiliki minat belajar tinggi, hasil belajar siswa yang mengikuti pendekatan pembelajaran kontekstual lebih tinggi daripada siswa yang mengikuti pendekatan pembelajaran konvensional (Qhitung=13,06 < α=0,05), (4) untuk siswa yang memiliki minat belajar rendah, hasil belajar siswa yang mengikuti pendekatan pembelajaran konvensional lebih tinggi daripada siswa yang mengikuti pendekatan pembelajaran kontekstual (Qhitung=3,83 < α=0,05). Atas dasar temuan di atas disimpulkan bahwa penerapan pendekatan pembelajaran dan minat belajar mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap hasil belajar.
Menurut analisa penulis pengambilan kesimpulan hasil penelitian ini hanya berpatokan pada jawaban rumusan masalah semata sehingga tidak menghasilkan teori baru, karena hanya menjawab pengaruhnya signifikan atau tidak saja. Padahal penelitian ini menurut penulis telah menghasilkan teori baru yang sangat berguna bagi semua guru pada temuan penelitian poin ketiga dan keempat yaitu: (1) siswa yang tinggi minat belajarlah pendekatan kontektual dapat mendorong hasil belajar lebih tinggi, (2) siswa yang rendah minat belajar lebih baik menerapkan pendekatan konvesional daripada pendekatan kontekstual. Penelitian ini sangat menarik minat penulis untuk meneliti siswa yang minat belajar sedang menggunakan pendekatan kontekstual melihat bagaimana peningkatan percaya diri siswa dalam mengikuti pembelajaran. Posisi penelitian ini tidak melihat hasil akhir yang dicapai, tetapi lebih menspesifikasi penelitian pada proses pembelajaran kontekstual dengan mengintegrasikan peningkatan percaya diri siswa dalam pembelajaran. Meskipun percaya diri siswa dalam pebelajaran akan mempengaruhi hasil belajar yang signifikan sebagaimana disebutkan dalam penelitian terdahulu.
Mempertimbangkan kelemahan pembelajaran secara konvensional Indriastuti(1999) berpendapat bahawa belajar  dengan strateg konvensionalyang komunikasinyasatu arah, situasibelajar terpusat padaguru mengajar untuk memberikan informasisecara lisan kepada anak tidak adanya usaha mengembangkan ketrampilan intelektual anak secara aktif. Oleh karena itu, semakin memperkuat alasan penulis berasumsi bahwa menumbuhkan percaya diri siswa dalam pembelajaran sangat penting. Pembelajaran yang berpusat pada siswalah yang dapat menumbuhkan sikap percaya diri siswa, dalam pembelajaran kontekstual dapat melatih keterampilan informasi siswa, maka guru dituntut mengelola pembelajaran kontekstual yang menarik dan berpusat kepada siswa aktif secara bervariasi untuk merangsang sikap percaya diri siswadalam pembelajaran.
Selanjutnya yang harus menjadi perhatian guru adalah kelemahan sebahagian siswa yang kurang percaya diri, mereka terus menerus merasa selalu kalah bersaing, takut untuk mencoba, merasa selalu ada yang salah dan sering khawatir yang tidak tepat sasaran diakibatkan kurang cermat membaca informasi, mengolah, menyaji dan menggunakan informasi tentang diri dan lingkungannya. Oleh karena itu, tugas sekolah dan guru bukan hanya sekedar mengajarkan materi kepada siswa, tetapi strategi mendorong siswa mampu mengatualisasi diri, menghargai diri, mengeksistensikan dirinyamelalui pembelajaran kontekstual dalam setiap kegiatan pembelajaran dengan penuh percaya diri sangat diperlukan.

Metode
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif pendekatan penelitiantindakan kelas (classroom action research) bertujuan untuk memperbaiki program pembelajaran di kelas. Oleh karena itu diperlukan suatu tindakan dalam mendesain pembelajaran IPS yang tepat yang dapat meningkatkan percaya diri siswa dalam pembelajaran dengan pendekatan kontekstual. Berkaitan dengan penelitian tindakan, menurut Arikunto (2008) mengatakan bahwa model penelitian tindakan dapat menggunakan empat komponen pokok penelitian tindakan yang menunjukkan langkah yaitu: (1) perencanaan (planning), (2) tindakan (acting), (3) pengamatan (observing), (4) refleksi (reflecting). Keempat komponen pokok ini merupakan satu kesatuan dalam suatu penelitian tindakan yang menunjukkan kegiatan yang berulang atau disebut dengan siklus yang menggabungkan antara komponen perlakuan dan komponen pengamatan. Penelitian akan dilakukan sampai mendapatkan kriteria peningkatan percaya diri sangat positif yang berarti bahwa lebih besar atau sama dengan kuartil III.
Analisis data dilakukan dengan reduksi data, penyajian, dan verifikasi. Mereduksi data berarti merangkum, memilih hal-hal yang pokok, memfokuskan pada hal-hal yang penting, mencari tema dan polanya. Dengan demikian data yang telah direduksi akan memberikan gambaran yang lebih jelas, dan mempermudah peneliti untuk melakukan pengumpulan data selanjutnya, dan mencarinya bila diperlukan.
Penyajian data dilakukan dengan uraian singkat, dengan menyajikan data dan untuk memudahkan untuk memahami apa yang terjadi, merencanakan kerja selanjutnya berdasarkan apa yang telah difahami tersebut. Verifiksi data yaitu mengambil kesimpulan awal yang dikemukakan masih bersifat sementara; dan akan berubah bila tidak ditemukan bukti-bukti kuat yang mendukung pada tahap pengumpulan data berikutnya. Apabila kesimpulan yang dikemukakan pada tahap awal, didukung oleh bukti-bukti yang valid dan konsisten saat peneliti kembali ke lapangan mengumpulkan data, maka kesimpulan yang dikemukakan merupakan kesimpulan yang kredibel. Kesimpulan adalah temuan yang baru yang sebelumnya belum pernah ada. Temuan dapat berupa deskripsi atau gambaran suatu objek yang sebelumnya masih remang-remang atau gelap sehingga setelah diteliti menjadi jelas, dapat berupa hubungan kausal atau interaktif, hipotesis atau teori. Pengecekan keabsahan data menggunakan triangulasi yaitu mengulang atau klarifikasi dengan aneka sumber. Triangulasi yang digunakan adalah triangulasi data, triangulasi metode, dan triangulasi teori.

Hasil Penelitian

Daftar Pustaka

DAFTAR PUSTAKA

I.     Sumber Jurnal

Afiatin, T., & Andayani, B. (1998). Peningkatan kepercayaan diri remaja penganggur melalui kelompok dukungan sosial peningkatan kepercayaan diri remaja penganggur melalui kelompok dukungan sosial. Jurnal psikologi,Universitas Gadjah Mada, No. 2.
Aghdaie, S. F. A., & Khatami, F. (2014). Investigating the Role of Self Confidence and Self-Image Proportion in Consumer Behavior. International Journal of Marketing Studies. Vol. 6. No. 4. Published by Canadian Center of Science and Education. 
Albrecht, K., Essen, E., Parys, J., & Szech, N. (2013). Updating,self-confidence, and discrimination. European Economic Review. Vol. 60. Contents lists available at Sci Verse Science Direct Journal homepage:www.elsevier.com/locate/eer
Alias, M., Hafir, M. (2009). The relationship between academic self-confidence and cognitive performance among engineering students. Proceedings of the research in engineering education symposium Johor, Malaysia: Universiti Tun Hussein Onn Malaysia. Palm CoveQLD1
Beattie, S., Hardy, L., Savage, J., Woodman, T., & Callow, N. (2011).Development and validation of a trait measure of robustness of self-confidence. Psychology of Sport and Exercise. Vol. 12. Contents lists available at Science Direct journal homepage:www.elsevier.com /locate/psychsport.
Chan, J. C. K., Fong, D. Y. T., Tang, J. J., Gay, K. P., & Hui, J. (2015). The Chinese Student Satisfaction and Self-Confidence Scale Is Reliable and Valid. Clinical Simulation in Nursing. Vol. 11.www.elsevier.com /locate/ecsn.
Chao, H. J., Chin, L. C., Yueh, H. M., Chun, K. Y., Chih, W. C., & Ying, C. C.  (2015). Larvae phobia relevant to anxiety and disgust reflected to the enhancement of learning interest and self-confidence. Learning and Individual Differences.Vol. 42. Contents lists available at Science Direct journal homepage: www.elsevier.com/locate/lindif.
Comeig, I., Grau, A., Gutiérrez, A. J., & Ramírez, F. (2016). Gender, self-confidence and preferences for competition. Journal of Business Research. Vol. 69 Contents lists available at Science Direct
Darma, S., Putu, L., Wayan, K., & Wayan. (2013). Pengaruh pendekatan pembelajaran kontekstual terhadap hasil belajar ditinjau dari minat belajar siswa. e-Journal Program Pascasarjana Universitas Pendidikan Ganesha. Vol. 3.
Dwitantyanov, A., Hidayati, F., & Sawitri, D. R. (2010). Pengaruh pelatihan berpikir positif pada efikasi diri, Jurnal Psikologi Undip,Universitas Diponogoro Semarang, Vol. 8. No. 2
Fallah, N. (2014). Communication self-confidence, motivation, shyness.Learning and Individual Differences.Vol. 30. Contents lists available at Science Direct journal homepage:www.elsevier.com/locate/lindif.
Filippin, A., & Paccagnella, M. (2012). Family background, self-confidence and economic outcomes. Economics of Education Review. Vol. 31. Contents lists available at SciVerse Science Direct journal homepage: www.elsevier.com/locate/econedurev.
Fleming, L. K., Rapp, C. G., & Sloane, R. (2011). Caregiver Knowledge and Self-Confidence of Stress. Journal of Pediatric Nursing. Vol. 26.
Florack, A., Rohman, A., Palcu, J., & Mazziotta, A. (2014). How initial cross-group friendships prepare for interculturalcommunication: The importance of anxiety reduction and self-confidence in communication. International Journal of Intercultural Relations.Vol. 43. Contents lists available at Science Direct journal homepage: www.elsevier.com/locate/ijintrel
Franklin, A. E., Burns, P., & Lee, C. S. (2014). Self-Confidence in Learning, Simulation Design Scale, and Educational Practices Questionnaire. Nurse Education Today. Vol. 34. Contents lists available at Science Direct journal homepage: www.elsevier.com/nedt.
Freeman, D., Pugh, K., Dunn, G., Evans, N., Sheaves, B., Waite, F., ÄŒernis, E., Lister, R., & David. (2014). Fowlertrial testing the effect on persecutory delusions of using CBT to reduce negative cognitions about the self: The potential benefits of enhancing self confidence.Schizophrenia Research. Vol. 160. Contents lists available at Science Direct journal homepage: www.elsevier.com/locate/schres.
Hanton, S., Mellalieu, S. D., & Hall, S. (2004). Self-confidence and anxiety interpretation: A qualitative investigation. Psychology of Sport & Exercise. Vol. 5. www.elsevier.com/locate/psychsport.
Hatzigeorgiadis, A., Zourbanos, N., Mpoumpaki, S., & Theodorakis, Y. (2009). Mechanisms underlying the self talk performance relationship: The effects of motivational self talk on self-confidence and anxiety.Psychology of Sport and Exercise. Vol. 10. Contents lists available at Science Direct journal homepage: www.elsevier.com/locate/ psychsport.
Hendriana, H, Slamet, U. R., & Sumarmo, U. (2014). Mathematical connection ability and self-confidence. International journal of education. Jakarta: Universitas Pendidikan Indonesia.
Hong, J. C., Hwang, M. Y., Tai, K. H & Chen, Y. L. (2014). Using calibration to enhance students’ self-confidence. Computers & Education. Vol. 72. Contents lists available at Science Direct journal homepage:www.elsevier.com/locate/compedu.
Idrus, M., & Rohmiati, A. (2008). Hubungan percaya diri remaja dengan pola asuh orang tua etnis Jawa, Jurnal psikologi Universitas Gadjah Mada, No. 4.
Kisac, I & Budak, Y. (2014). Metacognitive strategies of the students with respect to their perceived self-confidence levels about learning.Procedia Social and Behavioral Sciences. Vol. 116. Science Direct Available online at www.sciencedirect.com.
Kleitman, S. & Gibson, J. (2011). Metacognitive beliefs, self-confidence and primary learning environment of students. Learning and Individual Differences. Vol. 21.  Learning and Individual Differences.Vol. 30. Contents lists available at Science Direct journal homepage: www.elsevier.com/locate/lindif.
Kleitman, S. & Stankov, L. (2007) Self-confidence and metacognitive processes.Learning and Individual Differences.Vol. 17. Available online at www. Sciencedirect.com. www.elsevier.com/locate/lindif
Maknde, B. O., & Akinteye, A. J. (2014). Effects of Mentoring and Assertivieness Trainong on Adolescents’ Self-Esteem in Lagos State Secondary Schools, International Jurnal of Sciense Studies, vol. 2, No. 3
Marcen, C., Gimeno, F., Gomez, C., Saenz, A., & Gutierrez, H. (2013). Socioeconomic Status, Parental Support, Motivation and Self-Confidence. Procedia Social and Behavioral Sciences. Vol. 82. Sciverse Science Direct Available online at www.sciencedirect.com.
Naeem, M. H., Shabir, G., Umar, H. M., Shabir, S. A., Nadvi, N. A., Hayat, A., & Azher, M. (2014). Effects of social support on self-esteem  mongest the students of u.o.s Sargodha.International journal of academic research and reflectionVol. 2, No. 2.
Ordonez, O., Carlos, J., Stoller, Friederike, Remmele, & Bernd. (2015).Promoting Self-Confidence, Motivation and Sustainable Learning Skills in Basic Education. Procedia Social and Behavioral Sciences. Vol. 171. Science Direct Available online at www.sciencedirect.com.
Peduzzi, P., Guo, Z., Marottoli, R. A., Gill, T. M., Araujo, K., & Allore, H. G. (2007). Improved self-confidence was a mechanism of action in two  geriatric trials evaluating physical interventions. Journal of Clinical Epidemiology Vol. 60.
Poon, J. C. Y., Au, A. C. Y., Tong, T. M. Y., & Lau, S. (2014). The feasibility of enhancement of knowledge and self-confidence in creativity: Apilot study of a three hour Scamper workshop on secondary students.Thinking Skills and Creativity. Vol. 14. Contents lists available at Science Direct journal homepage:http://www.elsevier.com/locate/tsc.
Rabaz, F. C., Castuera, R. J., A., Arias, G., Echeverría, C. F.,  & Arroyo, M. P. M.  (2014). Self-confidence, perception of ability and satisfaction of the basic psychological need of competence in training. Procedia Social and Behavioral Sciences. Vol. 132. Science Direct Available online at www.sciencedirect.com.
Safta, C. G. (2015). Career Decisions a Test of Courage, Responsibility and Self-Confidence in Teenagers. Procedia Social and Behavioral Sciences. Vol. 203. Science Direct Available online atwww.sciencedirect.com.
Saputro, N. D., & Suseno, M. N. (2010). Hubungan antara kepercayaan diri dengan employabilityJurnal fakultas psikologi dan ilmu sosial budaya.Universitas Islam Indonesia.
Sar, A. H., Avcu, R., & Isiklar, A. (2010). Analyzing undergraduate self-confidence levels in terms of some variables. Procedia Social and Behavioral Sciences. Vol. 5. Science Direct. Available online atwww.sciencedirect.com.
Sari, R. P., Rejeki, T., & Mujab, A. (2006). Pengungkapan diri tahun pertama pembelajaran ditinjau dari jenis kelamin dan harga diri, Jurnal Psikologi Universitas Diponegoro Semarang, Vol.3 No. 2.
Sharma, S. & Sahu, D. (2013). Effect of Social Networking Sites on Self Confidence. International Journal of Information and Computation Technology. Vol.3. No. 11. International Research Publications House http://www. irphouse.com /ijict.htm.

Singh, T. & Kaur, P. (2008). Effect of meditation on self confidence of student- teachers in relation to gender and religion.Jurnal of exercise and physiotherapy. Universitas Pendidikan Indonesia.

Siska, Sudarjo & Purnamaningsih, E. H. (2003). Kepercayaan diri dan kecemasan komunikasi interpersonal, Jurnal psikologi Universitas Gadjah Mada. No. 2
Suhardita, K. (2010). Efektivitas penggunaan teknik permainan dalam bimbingan kelompok untuk meningkatkan percaya diri siswa (penelitian quasi eksperimen pada sekolah menengah atas laboratorium percontohan).Jurnal pendidikan UPI Bandung.
Tosterud, R., Petzall, K., Hedelin, B., &  Lord, M. L. H.  (2014). Psychometric testing of the Norwegian version of the questionnaire, Satisfaction and Self-Confidence in Learning, used in simulation. Nurse Education in Practice.Vol. 14. Contents lists available at Science Direct journal homepage: www.elsevier.com/nepr.
Waini, I., Hamzah, K., Said, R. M., Miswand N. H., Zainal, N. A., & Ahmad, A. (2014). Self-Confidence in Mathematics, International Journal for Innovation Education and Research, Vol. 2.
Woodman, T., Akehurst, S. Hardy, L., & Beattie. S. (2010).  Self-confidence and performance: A little self doubt helps. Psychology of Sport and Exercise. Vol. 11. Contents lists available at Science Direct journal homepage: www.elsevier.com/locate/psychsport.
Zlata, B. V. (2013). Cross-cultural Analysis of Factor Structures of Self-Confidence of Different Groups. Procedia Social and Behavioral Sciences. Vol. 86. Science Direct Available online at www. sciencedirect.com.
Zulkosky, K. D. (2012). Simulation Use in the Classroom: Impact on Knowledge Acquisition, Satisfaction, and Self-Confidence. Clinical Simulation in Nursing. Vol. 8. www.elsevier.com/locate/ecsn.
Zvolensky, M. J., Miller, M. O. B., Feldner, M. T., Feldner, E. L., McLeish, A. C., & Gregor, K. (2016). Anxiety sensitivity: Concurrent associations with negative affect smoking motives and abstinence self-confidence among young adult smokers. Addictive Behaviors. Vol. 31. Avallable online at www.sciencedirect.com.

II.  Sumber Buku
Ali, M. (2000). Guru dalam Proses belajar mengajarBandung: Sinar Baru Algasindo.
Al-Uqshari, Y. (2005). Pecaya diri pastiJakarta: Gema Insani.
Anthony, R. (1992). Rahasia membangun kepercayaan diriterj.Rita WiryadiJakarta: Binarupa Aksara.
Anwar, S. (2003). Sikap manusia teori dan pengukurannya. Yogyakarta:Pustaka Pelajar.
Arikunto, S. (1998). Prosedur penelitian suatu pendekatan praktek Jakarta:Rineka Cipta.
Arikunto, S. (2002). Metodologi penelitian kualitatifBandungPustakaSetia.
Arikunto, S., & Suhardjono, S. (2008). Penelitian tindakan kelas. Jakarta: Bumi Aksara.
Aunurrahman. (2010). Belajar dan pembelajaran. Bandung: Alfabeta.
Butler, T. (2007). Gatting unstuck; jangan mandek! ubah jalan buntu jadi jalan maju, Terjemahan Zia Anshor.Jakarta: Serambi Ilmu Semesta.
Creswell, JW. (2012)Educational Research: Planning, Conducting, and Evaluating Quantitative and Qualitative Research (4th ed). Boston: Pearson Education.
Daradjat, Z. (1990). Kepribadian remajaJakarta: Bulan Bintang.
Davies, I. K. (1991). Pengelolaan pembelajaran. JakartaRajawaliPress.
Depdiknas. (2002). Pendektan kontekstual contextual teaching and learning. Jakarta: Depdiknas.
Edwards, C. D. (2006). Mengatasi anak yang sulit diatur.Terjemahan Oetih, P.D. Bandung: Penerbit Kaifa.
Hakim. (2002). Mengatasi rasa tidak percaya diri. Jakarta: Purwa Suara.
Hana, A. H. (1978). Bimbingan pendidikan dan pengajaran.Jakarta: Bulan Bintang.
Indrastoeti, Y. (1999). Strategi proses belajar mengajar. Bandung:Tarsito.
Ja'far, F. (2006). Road to the great success; meraih sukses tanpa batas dengan spiritual, emosianal intelektual empowerment. Bandung: Progessio.
Johnson, E. B. (2002). Contextual teaching and learning. California: Corwin Press, Inc.
Kartono, K. (1986). Psikologi anak. Bandung: Alumni.
Masrun & Martaniah. (1973). Psikologi pendidikan seri paedagogik.Yogyakarta: Yayasan Penerbit Fak. Psikologi UGM.
Nurhadi (2004).  Pembelajaran  kontekstual dan penerapannya dalam KBK.MalangUniversitaNegeri Malang.
Partowisastro, K. (1983). Dinamika dalam psikologi pendidikan. Jakarta: Erlangga.
Pasiak, T. (2006). Manajemen kecerdasan memberdayakan IQ, EQ, dan SQ untuk kesuksesan hidup.  Bandung: Mizan Pustaka.
Raharjo, B. (2003). Managemeberbasis sekolahJakarta: Dep.Pendidikan Nasional.
Riduwan. (2007). Skala pengukuran variabel-variabel penelitian. Bandung: Alfabeta.
Rusman. (2010). Model-model pembalajaranJakarta: Raja Grafindo.
SagalaS(2008). Konsep dan makna pembelajaran untuk membantu memecahkan problematika belajar dan mengajar. Bandung: Alfabeta.
Santrock, J. (2003). Adolescena perkembangan remaja. Jakarta: Erlangga.
Seligman, ME. P. (2005). Authentic happiness; menciptakan kebahagiaan dengan psikologi positifBandung: Penerbit Mizan.
Slameto. (1995). Belajar dan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Jakarta:Rineka Cipta.
Sudjana., & Ibrahim. (2007). Penelitian dan penilaian pendidikan. Bandung: Sinar Baru Algesindo.
Sudrajat, H. (2002). Pedoman perumusan tujuan interaksional.Jakarta: Dirjrn KelembagaaAgama Islam.
Sugiyono. (2010). Metode penelitian kuantitatif, kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta.
Syah, M. (1998). Psikologi pendidikan dengan model pembelajaran baru.Bandung: Remaja Rosdakarya.
Wibawa, B., & MuktiF. (1991). Media pengajaranJakarta:Depdikbud Dirjend Dikti ProyePembinaan tenagaKependidikan.
Wijaya, J. (1998). Psikologi bimbingan. Bandung: Eresco.
Winkle, W.S., (1982). Bimbingan penyuluhan di sekolah menengahJakarta:Gramedia.



[1] Percaya diri menurut Hakim (2002) adalah suatu keyakinan seseorangterhadasegala aspek kelebihan yandimilikinya dakeyakinan tersebutmembuatnymerasa mampu untuk bisa mencapai berbagai tujuan dalamhidupnya. Sedangkan menurut Ja’far (2006) percaya diri adalah keadaanpemikiran seseorang yang dihadirkan melalui perbuatan, seseorang dapat lebih percaya diri apabila ia memiliki tujuan dalam hidupnya dan biasanyaseseoranyang tidak percaya diri akan cenderung pasif karena merasatidak nyaman dengan diri mereka sendiri. Menurut Butler (2007) percaya diri adalah kecenderungan dan kegairahan yang tinggi atau keinginanyang besar terhadap keberhasilan sesuatu. Sedangkan Al-Uqshari (2005) lebih singkat mengartikan percaya diri adalah pendapat yanseseorang miliki mengenai dirinya sendiri. Menurut Rahmat (2002) lebih komplek menyebutkan sikap percaya diri adalah sekumpulan dari kepercayaan atauperasaan tentang diri kita sendiri. Hal tersebut akan mempengaruhimotivasisikap, dan tingkah laku yang efeknya pada penilaian emosi.Menurut Winkle (1982) ia lebih menekankan pada pengalaman sehingga ia berpendapat bahwa sikap percaya diri adalah sebuah pengalamandalam keberhasilan untuk menghadapi tantangan kehidupayangmendasar dan dalam mencapai kebahagiaan dari diri sendiryang secaraumum mengacu pada bagaimana merasa dan berdiri di atas prinsip sendiri.  
[2] Penelitian yang mempromosikan kepercayaan diri, motivasi danketerampilan dalam pembelajaran (Ordonez, Carlos, Stoller, Friederike, Remmele, dan Bernd, 2015), (Franklin, Burns, dan Lee, 2014)(Zulkosky, 2012), (Poon, Au, Tong, dan Lau, 2014), (Hong, Hwang, Tai, dan Chen, 2014), dan (Chao, Chin, Yueh, Chun, Chih, dan Ying, 2015). Penelitian lain tentang percaya diri dalam berperilaku di kelas dapat dilihat dalam penelitian memperbaharui percaya diri dalam berperilaku dan analisis tingkat percaya diri di kelas (Albrecht, Essen, Parys, dan Szech, 2013), (Chan, Fong, Tang, Gay, dan Hui, 2015), (Sar, Avcu, dan Isiklar, 2010), dan(Tosterud, Petzall, Hedelin, dan Lord, 2014). Penelitian senada kepercayaan diri, persepsi kemampuan dan kepuasan dasar kebutuhan psikologis dalam pembelajaran (Rabaz, Castuera, Arias, Echeverría, dan Arroyo, 2014), metakognitif  strategi siswa sehubungan dengan tingkat kepercayaan diri yang dirasakan pembelajar (Kisac dan Budak, 2014), dan peningkatan percaya diri dan kemandirian siswa dalam pembelajaran (Widiyanti, 2014). Penelitian lain tentang percaya diri siswa dipengaruhi oleh sifat internal, terlihat dari beberapa penelitia, seperti peran kepercayaan diri dan citra diri proporsi dalam berperilakuberani, tanggung jawab pada remaja (Safta, 2015), (Beattie, Hardy, Savage, Woodman, dan Callow, 2011), (Kleitman dan Stankov, 2007), (Aghdaie, dan Khatami, 2014), (Peduzzi, Guo, Marottoli, Gill, Araujo, dan Allore, 2007), (Woodman, Akehurst, Hardy, dan Beattie, 2010), dan (Hanton, Mellalieu, dan Hall, 2004).
Penenlitian percaya diri siswa dipengaruhi oleh lingkungan sosial dan budaya dalam berinteraksi, dapat dilihat dari beberapa penelitian, yaitu kajian metakognitif keyakinan kepercayaan diri dan lingkungan belajar siswa (Kleitman, dan Gibson, 2011), efek dari situs jaringan socialpada kepercayaan diri (Sharma, dan Sahu, 2013), komunikasi kepercayaan diri, motivasi, dan rasa malu (Fallah, 2014), analisis faktor struktur percaya diri dari antar budaya berbagai kelompok siswa (Zlata, 2013), dan bagaimana mempersiapkan awal persahabatan lintas kelompok untuk berkomunikasi antar budaya: pentingnya pengurangan kecemasan dan kepercayaan diri dalam komunikasi (Florack, Rohman, Palcu, dan Mazziotta, 2014). Penelitian lain menempatkan pengaruh lingkungan keluarga pada percaya diri siswa dalam kajian latar belakang keluarga, kepercayaan diri, dan hasil ekonomi (Filippin, dan Paccagnella, 2012), status sosial ekonomi, dukungan orang tua, motivasi dan kepercayaan diri dalam berkompetisi (Marcen, Gimeno, Gomez, Saenz, dan Gutierrez, 2013)dan mekanisme yang mendasari hubungan kinerja pembicar: efek dari motivasi pembicara pada kepercayaan diri dan kecemasan (Hatzigeorgiadis, Zourbanos, Mpoumpaki, dan Theodorakis, 2009).
Kajian percaya diri ditinjau dalam bentuk semi teraphi dalam pembelajaran dapat dilihat dari penelitian tentang efek dari meditisai terhadap percaya diri (Singh dan Kaur, 2008), dan percobaan menguji efek pada persecutory delusi menggunakan CBT untuk mengurangi kognisi negatif tentang diri: potensi manfaat dari meningkatkan kepercayaan diri (Freeman, Pugh, Dunn, Evans, Sheaves, Waite, Cernis, Lister, dan David, 2014), (Fleming, Rapp, dan Sloane, 2011), (Comeig, Grau, Gutiérrez, dan Ramírez, 2016), dan (Zvolensky, Miller, Feldner, Feldner, McLeish, dan Gregor, 2016). Penelitian tetang percaya diri siswa yang dituangkan dalam bidang psikologi pendidikan, antara lain: hubungan antara percaya diri akademik dan kinerja kognitif (Alias dan Hafir, 2009), kemampuan dan percaya diri (Hendriana, Rahmat, dan Sumarmo, 2014). Penelitan tentang percaya diri ditinjau dari aspek sosial telah dilakukan penelitian efek dukungan sosial pada kepercayaan diri remaja (Naeem, Shabir, Umar, Azhar, Nadvi, Hayat, dan Azher, 2014), (Afiatin dan Andayani, 1998)(Siska dan Purnamaningsih, 2003), (Saputro dan Suseno, 2010), (Sari, Rejeki dan Mujab, 2006), (Idrus dan Rohmiati, 2008), dan (Dwitantyanov, Hidayati, dan Sawitri, 2010). (Suhardita, 2011), dan (Muharomi, 2012).

13 Desember 2016

Akulturasi Ritual Peusijuek Sebagai Media Komunikasi Transidental dan Kekuatan Simbolik dalam Masyarakat Aceh; Kajian Antropologi berdasarkan teori semiotika signifikasi dan semiotika komunikasi by Ridwan, MA


Ridwan1
1 SMPN 3 Panga Aceh Jaya Email: ridwanteunom@gmail.com

Pendahuluan
Penelitian tentang ritual adat sebagai media komunikasi transedental dan simbul kekuatan dalam masyarakat diberbagai daerah telah menarik perhatian banyak peneliti, antara lain: penelitian yang mengkaji tentang relasi kuasa dalam praktik sukur bumi (Heriawati, Soemanto, dan Nugroho, 2012). Ritual adat sebagai media komunikasi dengan Tuhan terlihat dalam kajian komunikasi transendental dalam ritual kapontasu pada sistem perladangan masyarakat etnik Muna (Hardin, 2016). Penelitian senada yang menganalisis data dengan teori semiotika signifikasi dan semiotika komunikasi mengkaji makna simbolik ritual sesaji anak gunung Kelud (Nimah, Sulistyorini, dan Kamal, 2012). Penelitian yang memaknai atau memberikan interpretasi terhadap aktivitas ritual adat sebuah masyarakat yang menjadi proses semiosis terjadi, penginterpretasian tanda suatu aktivitas yang dilakukan secara turun temurun dalam momentum khusus dan mengandung makna tertentu seperti pemaknaan simbolik dari tradisi nujuh bulanan (Fitriah, 2012).
Penelitian kebudayaan dalam kontek keacehan adanya penelitian pendidikan dan perubahan sosial di Aceh pasca konflik dan pasca bencana, Indonesia (Shah, dan Cardozo, 2014). Tulisan ini menganalisis konteks di mana pendidikan di Aceh bertindak strategis untuk memajukan agenda transformasi sosial. Lebih spesifik terkait ritual adat peusijuek[1] (tepung tawar) sebagai pengendali sosial terlihat dalam penelitian peusijuek dalam penyelesaian konflik atau persengkatan dalam Masyarakat Aceh (Wibowo, 2009). Penelitian Peusjuek sebagai tradisi syukur dan mendo’akan keselamatan dapat dilihat dari penelitian peusijuek sebagai sebuah tradisi ritual sosial Masyarakat Pasee dalam perspektif tradisionalis dan reformis (Dhuhri, 2009). Selanjutnya beberapa penelitian lain tentang tradisi peusijuk pada masyarakat Aceh dilakukian oleh (Makara, 2016), Ariawijaya. (2008), Ibrahim. (2010), Ryo, (2008), dan Andi, (2009).  
Setiap masyarakat memiliki ritual adat dan kebudayaan yang bersifat khas, yang membedakan antara masyarakat satu dengan masyarakat lainnya. Kekhasan ritual peusijuek dalam adat budaya Aceh misalnya, di samping prosesi yang unik terletak pada sisi onthologinya bernafas Islam. Selogan dalam masyarakat Aceh “hukum ngoen adat lagei zat ngoen sifeut” (hukum agama dan adat budaya ibarat zat dan sifat yang menyatu) apapun ritual adat dan kebudayaan di Aceh disesuaikan dengan syari’at Islam yang mengikat kultur dan struktur sosial budaya (Ismail, 2003). Ritual adat kebudayaan memiliki kekuatan simbolik bagi masyarakat dan dapat berfungsi sebagai rujukan berperilaku, sebagai pedoman dalam proses sosialisasi nilai dari satu generasi kepada generasi berikutnya, dan eksistensi ritual adat juga dapat menjadi tolok ukur dinamika perubahan yang terjadi di masyarakat.
Ritual peusijuek dalam masyarakat Aceh memiliki kekuatan simbolik yang kuat dan mengikat masyarakat melakukan sesuatu yang baru atau momen baru seperti; baru membeli kenderaan (peusijuek kendaraan), baru memulai membangun rumah (peusijuek peudong rumoh), mulai tinggal dirumah baru (peusijuek tempat tinggai), mulai menanam padi (peusijuek pade bijeh) memperbaiki hubungan baru (peusijuek meulangga), peresmian pengantin baru (peusijuek pengantin), peresmian kantor baru, peresmian pejabat baru, baru menunaikan jama’ah haji, bahkan sampai khatam qur’an dan qurban (Dhuhri, 2003).
Peusijuek dalam prosesi adat tidak hanya dilakukan pada kegiatan-kegiatan/momen menyenangkan saja dalam kehidupan masyarakat Aceh, tetapi peusijuek juga dilakukan pada keadaan musibah/duka seperti peusijuek peremuan diceraikan suami, peusijuek orang terkejut dari sesuatu yang luar biasa (kena tabrakan kendaraan), peusijuek mendamaikan perkelahian antar warga (Ismail, 2003). Peusijuek selain sebagai rasa syukur secara keagamaan juga memiliki fungsi sosial, yaitu sebagai media penyeimbang hubungan manusia dengan Tuhan dan manusia dengan lingkungan sosialnya, memupuk rasa kebersamaan, penguatan motivasi, pembangkit rasa percaya diri melakukan sesuatu yang baru telah melaksanakan peusijuek.
Ritual peusijuek dalam masyarakat Aceh khususnya dan tepung tawar dalam masyarakat Melayu umumnya menjadi identitas media komunikasi transidental dan memiliki kekuatan simbolik tersendiri di nusantara. Hampir semua daerah yang memiliki budaya Melayu umumnya mengetahui tentang adat tepung tawar, hanya mungkin sedikit berbeda-beda antar daerah satu dengan daerah lainnya, baik menyangkut tata cara pelaksanaan maupun fungsinya (Ryo, 2008). Salah satu fungsi dari upaca adat tepung tawar dalam masyarakat adalah bermakna pemberian restu dan do`a dari orang tua kepada calon pengantin atau yang dido`akan (Ariawijaya, 2008), atau untuk melepaskan gangguan tertentu dalam kekuatan manusia (Andi, 2009).
Melihat perlengkapan dan prosesi peusijuek adanya pemaknaan kekuatan simbolik dan pesan-pesan tertentu yang selalu dikomunikasikan melalui ritual ini, meskipun terdapat beberapa pandangan yang berbeda tentang eksistensinya. Mengingat ritual adat peusijuek memiliki makna penting bagi kehidupan sosial, karena tradisi ini merupakan satu bentuk komunikasi sosial dan budaya yang dipelihara sampai sekarang. Sebagai satu bentuk komunikasi, tentunya banyak perspektif yang dapat digunakan untuk melihat, mengkaji dan memahami tradisi ini, baik dari aspek sosial, budaya, hingga hukum dan agama. Oleh karena itu, penelitian ini membatasi fokus kajian tentang komunikasi transidental dan kekuatan simbolik dari ritual adat peusijuek dalam masyarakat Aceh. Kajian ini hanya akan melihat ritual adat peusijuek sebagai satu bentuk komunikasi dalam tradisi adat dan budaya masyarakat Aceh. Perspektif kajiannya murni pada nilai-nilai komunikasi transidental dan kekuatan simbolik dari perlengkapan dan prosesi tradisi ritual adat peusijuek. Oleh karena itu, yang dicari dari kajian ini adalah seputar makna-makna atau pesan-pesan tertentu yang terkandung dalam setiap perlengkapan dan prosesi ritual adat peusijuek dalam masyarakat Aceh.

Metode
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan karakteristik deskriptif.  Dalam menganalisis simbol-simbol yang terdapat pada adat ritual peusijuek, penulis menggunakan pendekatan semiotika. Oleh karena itu, makna dan simbol-simbol dalam ritual adat peusijuek penulis analisis berdasarkan teori semiotika signifikasi dan semiotika komunikasi. Semiotika signifikasi menghasilkan fungsi-fungsi tanda yang disepakati secara konvensional oleh masyarakat Aceh. Sedangkan teori semiotika komunikasi digunakan untuk mengungkap maksud-maksud tertentu secara fisik dalam prosesi ritual adat peusijuk. Analisis data dilakukan dengan reduksi data, penyajian, dan verifikasi. Mereduksi data berarti merangkum, memilih hal-hal yang pokok, memfokuskan pada hal-hal yang penting, mencari tema dan polanya. Dengan demikian data yang telah direduksi akan memberikan gambaran yang lebih jelas, dan mempermudah peneliti untuk melakukan pengumpulan data selanjutnya, dan mencarinya bila diperlukan.
Penyajian data dilakukan dengan uraian singkat, dengan menyajikan data dan untuk memudahkan untuk memahami apa yang terjadi, merencanakan kerja selanjutnya berdasarkan apa yang telah difahami tersebut.Verifiksi data yaitu mengambil kesimpulan awal yang dikemukakan masih bersifat sementara; dan akan berubah bila tidak ditemukan bukti-bukti kuat yang mendukung pada tahap pengumpulan data berikutnya. Apabila kesimpulan yang dikemukakan pada tahap awal, didukung oleh bukti-bukti yang valid dan konsisten saat peneliti kembali ke lapangan mengumpulkan data, maka kesimpulan yang dikemukakan merupakan kesimpulan yang kredibel. Kesimpulan adalah temuan yang baru yang sebelumnya belum pernah ada. Temuan dapat berupa deskripsi atau gambaran suatu objek yang sebelumnya masih remang-remang atau gelap sehingga setelah diteliti menjadi jelas, dapat berupa hubungan kausal atau interaktif, hipotesis atau teori. Pengecekan keabsahan data menggunakan triangulasi yaitu mengulang atau klarifikasi dengan aneka sumber. Triangulasi yang digunakan adalah triangulasi data, triangulasi metode, dan triangulasi teori.




[1] Secara umum masyarakat Melayu yang mengamalkan tradisi peusijuek, dengan nama “tepung tawar” yang berfungsi untuk selamatan dan syukuran, maupun untuk tolak bala dan buang sial (Andi, 2009; dan Ariawijaya, 2008). Pada masyarakat Aceh, tradisi tepung tawar ini dikenal dengan sebutan “peusijuek”. Kata “Peusijuek” sendiri diambil dari kata “sijuek”, dalam bahasa Aceh berarti “dingin”. Sehingga dapat juga diartikan mendinginkan atau menyejukan (Makara, 2016). Peusijuek (bahasa Aceh) atau menepung tawari adalah salah satu tradisi masyarakat Aceh yang masih dilestarikan sampai sekarang. Peusijuek dikenal sebagai bagian dari adat masyarakat Aceh. Peusijuek secara bahasa berasal dari kata sijuek (bahasa Aceh yang berarti dingin), kemudian ditambah awalan peu (membuat sesuatu menjadi), berarti menjadikan sesuatu agar dingin, atau mendinginkan (Dhuhri, 2008) Peusijuek  adalah salah satu ritual atau prosesi adat dalam budaya masyarakat Aceh. Tradisi ini dilakukan untuk memohon keselamatan, ketentraman, dan kebahagiaan dalam kehidupan. (Ismail, 2003). Tradisi Peusijuek merupakan salah satu tradisi yang sudah ada sejak zaman dahulu, dan masih sering dilakukan hingga sekarang. Tradisi ini sering dilakukan di hampir semua kegiatan adat masyarakat Aceh, seperti pernikahan adat, perayaan adat, syukuran dan upacara adat lain-lain (Wibowo, 2013).
 

09 Desember 2016

Analisis Konten dari Sisi Edukasi Ramalan Kitab Kuno Aceh Kelaparan Pasca Gempa Subuh Rabi'ul Awal 'Gempa Pidie Jaya 07 Desember 2016'


Diskursus dengan menggunakan metode analisis konten yang berpatokan pada sisi nilai edukasi apa yang harus di pahami masyarakat Aceh terkait ramalan kelaparan pasca gempa subuh bulan rabi'ul awal di Pidie Jaya Aceh.  
Sang Kolektor Tarmizi A Hamid memiliki koleksi naskah kuno Aceh yang membahas informasi gempa Aceh masa lampau. Terkait gempa Pidie Jaya Rabu, 07 Desember 2016 jam 05.03 bertepatan dengan bulan rabi’ul awal heboh dibicarakan di media sosial.


Aceh Terkini misalnya mengangkat topik; “Menurut Kitab Kuno Gempa Saat Subuh Pertanda Negeri Akan Kacau Balau”




Media Batam Tribun News mengangkat topik “Gempa Aceh Bikin Merinding! Kitab Kuno Menyebut Gempa Shubuh Pertanda Rakyat akan Lapar, Ini Tafsir Ramalan”

Borneo Channel mengangkat topik “Gempa Aceh 7 Desember 2016 Ternyata Telah diramalkan, Gempa Waktu Subuh maka Negeri Akan Kacau Balau”  http://borneochannel.com/gempa-aceh-7-desember-2016/

Pemberitaan tafsir gempa ini bersumber dari nara sumber yang sama yaitu Tarmizi A Hamid. Isi ringkas ramalan kitab kuno ini gempa di waktu subuh dalam bulan rabi’ul awal akan mengakibatkan negeri tersebut kelaparan. “Bab bermula jika pada bulan Rabiul Awwal gempa pada ketika shubuh alamat akan kacau balau dan lapar dalam negeri itu padanya. Jika ketika shubuh alamat akan lapar dan masalah rakyat dalam negeri padanya.”

Sang kolektor Tarmizzi mengatakan bahwa “pada bab gempa banyak disebutkan ramalan-ramalan gempa bumi karya para ulama terdahulu dan orang-orang zaman yang umumnya para sufi, sebenarnya mereka bukan hanya meramal kejadian, akan tetapi mereka juga merekam jejak peristiwa terdahulu sebagai catatan-catatan sejarah. Oleh karena itu jangan disalah arti sebagai ramalan tidak menentu, ini catatan-catatan para orang terdahulu dari peristiwa yang sudah dialami. Jangan salah memahami ini,” ujarnya.

Beberapa orang meyakini itu sekadar ramalam orang terdahulu di Aceh yang dituturkan dalam syair dan beberapa bait-bait soal gempa. Ini menandakan gempa yang terjadi di Aceh sudah berulang sejak zaman dahulu. Terkait gempa subuh, beberapa grup komunitas di jejaring sosial media malah menyebut gempa yang terjadi untuk membangunkan orang agar segera menunaikan salat shbuh.

Analisis Isi tanpa Mengesampingkan Nilai Edukasi
Dalam pembahasan ini memberikan apresiasi kepada medsos dan nara sumber, berita ramalan ini penting diketahui oleh banyak orang. Terlepas percaya atau tidak bukanlah menjadi sebuah tujuan, namun penting untuk dianalisis agar tidak keliru mengambil sikap dan tindakan, tidak menimbulkan kegalaun dan keresahan bagi masyarakat khususnya yang musibah. Insya Allah, Allah akan mengganjar dengan derajad yang tinggi bagi hambanya yang sabar dan tabah menghadapi ujian musibah, dan menambah nikmat-Nya bagi hambanya yang bersyukur. 

Kutipan tafsir gempa yang heboh dibicarakan itu benar adanya teks asli bertulisan begitu. Kalau dilihat dari bentuknya jelas terlihat kitab tersebut sudah sangat tua diperkirakan telah berusia sekitar 300 tahun, sebagian lembarannya sudah lepas, malah halaman sampul depan dan beberapa halaman pertama tidak dapat diidentifikasi lagi, sehingga tidak dapat dilacak judul dan pengarang kitab. Walau demikian, halaman isi dan huruf-huruf dalam kitab yang ditulis dengan tulisan tangan tersebut masih sangat jelas, hampir semua lembarannya masih utuh sehingga dengan mudah dapat membacanya.

Kitab ini terdiri dari beberapa Bab, salah satunya adalah bab tentang ta’bir gempa. Bab inilah yang sekarang ini heboh dibicarakan di sosial media. Terlepas dari ada percaya atau tidak pada ta’bir gempa yang tercantum dalam kitab tersebut. Dapat dianalisis dari metode penafsiran gempa berdasarkan bulan hijriah, kemudian disertai dengan keterangan waktu terjadinya gempa itu, seperti siang atau malam. Berbeda waktu berbeda tafsirnya, malah kadang-kadang ada yang paradok hanya karena perbedaan waktu, walaupun masih dalam bulan yang sama.

Posisi tafsir gempa dari kita kuno ini dapat dipahami dari dua sisi, yaitu;
1.   Sebagai catatan/rekaman sejarah kejadian gempa sebelumnya, terlihat pengarang kitab menghimpun sejarah gempa dalam waktu sekian lama, lalu menganalisa peristiwa apa yang menyusul setelah gempa itu terjadi, analisa ini dilakukan dalam waktu yang relatif lama karena harus disertai dengan kalender peristiwa sebelum dan sesudah gempa, disertai analisa waktu (pagi, siang, malam). Karena bisa saja terjadi gempa pada bulan yang sama tetapi beda waktunya, lalu mungkin saja peristiwa yang terjadi setelah gempa itu juga berbeda.

2.   Tafsir gempa itu diambil dari analisa pribadi terhadap segala kemungkinan yang akan timbul, yang didasari ilmu pendukung seperti ilmu geologi, ilmu falak, ilmu pergantian musim, dan lain sebagainya. Apapun landasannya, tafsir gempa untuk membuat masyarakat waspada pada peristiwa tersebut, karena sebuah kejadian susulan akan segera menyusul pasca gempa bumi, kewaspadaan seperti itu jauh lebih bermanfaat daripada mengabaikan segala kemungkinan yang bisa terjadi, sehingga kalau saja peristiwa itu benar-benar terjadi nantinya, masyarakat telah siap menghadapinya, kalau tidak terjadi pun tidak ada yang dirugikan.

Sisi edukasi yang penting dan layak menjadi catatan sebagai bahan mengambil pelajaran 
1. Persoalan gempa telah menjadi perhatian serius dari endatu Aceh, mereka menyelipkan pembahasan gempa yang memang rawan terjadi di Aceh dari zaman dahulu. Penafsiran gempa telah biasa bergulir dalam masyarakat, para ulama dan ilmuan berusaha untuk memberikan penyadaran kepada masyarakat tentang peristiwa alam tersebut supaya sama-sama dapat mengantisipasi segala kemungkinan buruk yang bisa saja terjadi setelahnya, sehingga masyarakat awam akan sadar bahwa gempa merupakan suatu kejadian yang akan disusul dengan kejadian lainnya.

2. Sebagai media peringatan dini untuk mencegah banyaknya korban dari sebuah bencana alam dengan peringatan dini ala kitab kuno yang kita jumpai, mereka telah berupaya untuk memperingatkan kita akan peristiwa gempa supaya dapat bersiap-siap menghadapi akibat baik atau buruk yang mungkin ditimbulkan setelah peristiwa itu.

3.  Sebagai upaya untuk mengungkap tabir yang terkandung di balik kejadian gempa bumi, ulama Aceh tempo dulu mencoba menganalisa pesan apa yang terkandung di balik suatu gempa berdasarkan waktu kejadiannya. Berusaha memahami rahasia fenomena alam secara sederhana, segala kejadian yang terjadi di alam ini ada Allah yang mengaturnya, usaha ini layak diberi apresiasi karena merupakan langkah luar biasa demi keselamatan anak cucu mereka di kemudian hari, upaya mereka dalam mengungkap tafsir gempa sebagai salah satu fenomena alam patut mendapat penghargaan yang tinggi, karena terbukti kelalaian kita terhadap peristiwa itu telah menyebabkan ratusan ribu nyawa melayang hanya dalam hitungan menit.

Berikut beberapa ramalan untuk sekedar dibaca dan jangan ditelan mentah-mentah
1. Bila ada gempa bumi pada bulan (Muharam) di siang hari: maka akan ada  banyak orang perihatin gempa tersebut. Bila malam hari akan banyak orang kesukaran(kesusahan).

2. Bila ada gempa bumi pada bulan (Safar) di siang hari: maka akan ada transmigrasi dan banyak penyakit. Bila malam hari maka orang-orang akan selamat pada tahun tersebut.

3.  Bila ada gempa bumi pada bulan (Rabi’ul awal) di siang hari: maka akan banyak penyakit dsb. Bila malam hari akan banyak hujan dan akan ada laut pasang.

4. Bila ada gempa bumi pada bulan (Rabi’ul akhir) di siang hari: maka akan banyak orang yang meninggal dunia &  petinggi Negara juga meninggal dunia. Bila malam hari maka akan baik, banyak hujan, harga bahan pokok murah, & semua tanaman menjadi subur.

5. Bila ada gempa bumi pada bulan (jumadil awal) maka akan ada  percekcokan, permusuhan 

6. Bila ada gempa bumi pada bulan (jumadil akhir) maka ada musim kemarau panjang banyak hewan kelaparan dan kurus pada tahun tersebut.

7. Bila ada gempa bumi pada bulan (Rajab) di siang hari: maka akan ada  musibah dan penyakit pada bulan tersebut. Bila malam hari maka akan ada peperangan dan banyak penyakit.

8  Bila ada gempa bumi pada bulan (Sya’ban) di siang hari: maka akan ada banyak orang yang meninggal dunia. Bila malam hari maka barang-barang mahal harganya

9. Bila ada gempa bumi pada bulan (Ramadhan) di siang hari: maka akan  ada pertengkaran dan kerusuhan. Bila pada malam hari maka akan orang bertransmigrasi dan akan menerima sesuatu dari orang lain.

10. Bila ada gempa bumi pada bulan (syawal) pada siang hari: maka akan  ada banyak musibah dan kerusuhan. Bila pada malam hari akan  ada percekcokan dan banyak orang sesat dari agamanya.

11. Bila ada gempa bumi pada bulan (dzulqa'idah) di siang hari maka  akan  ada banyak persaingan. Bila malam hari maka akan  banyak orang hijrah ke luar negri.

12. Bila ada gempa bumi pada bulan (dzulhijah) di siang hari maka akan  banyak orang bermusuhan dan kesulitan. Bila pada malam hari banyak rumah-rumah akan runtuh, banyak hujan, tanaman akan subur dan banyak orang akan berbuat baik.

   Semoga kita semua sabar dan tabah menghadapi apapun cobaan dan ujian Allah. Amin